31 January 2022, 18:05 WIB

Target Investasi 2020-2024 Lampaui Lima Tahun Sebelumnya


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Medcom.id.
 Medcom.id.
Ilustrasi.

TARGET investasi dari periode 2020 sampai 2024 mencapai Rp4.983 triliun. Angka ini meningkat jika dibandingkan investasi periode 2015 sampai 2019 yang tercatat Rp3.381 triliun.

Setelah berhasil mencatatkan capaian investasi sebesar Rp901 triliun pada 2021, Kementerian Investasi/BKPM ditargetkan untuk memenuhi realisasi investasi sebesar Rp1.200 triliun pada tahun ini. "Ini naik 3% lebih targetnya. Untuk mendapatkan ini bukan hal mudah, berat sekali. Tapi kami yakin dengan dukungan Komisi VI DPR yang memberikan ide tentang membangun peta potensi investasi melahirkan kreativitas baru yakni membangun sekitar Rp153 triliun investasi baru yang digagas oleh Kementerian Investasi dengan total 47 proyek," ungkap Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VI DPR, Senin (31/1).

Lebih lanjut, Bahlil memaparkan 47 proyek yang dimaksud terdiri dari sektor pariwisata dengan 12 proyek yang berpotensi menghasilkan Rp5,91 triliun, kawasan ekonomi dengan 14 proyek sebesar Rp49,68 triliun, industri manufaktur 15 proyek Rp52,44 triliun, dan infrastruktur 6 proyek Rp48,8 triliun. "Inilah gagasan dari Komisi VI DPR untuk membangun konsep investasi per provinsi atau per wilayah. Ini yang akan kami tawarkan juga di G20, bukan mau masuk coba-coba dan barang ini sudah jadi," kata Bahlil.

Pada tahun ini, Bahlil menegaskan bahwa Provinsi Sumatra ditargetkan dapat menggaet Rp276 triliun, Kalimantan Rp102 triliun, Sulawesi Rp100 triliun, Maluku Rp50 triliun, Papua Rp30 triliun, Bali dan Nusa Tenggara Rp51 triliun, dan Jawa Rp588 triliun. Terkait dengan penanganan investasi bermasalah, dia juga menyebut bahwa Kementerian Investasi/BKPM telah menyelesaikan izin dan investasi bermasalah termasuk di NTB, tepatnya Pulau Gili Trawangan.

"Nah ini konsesi diberikan pada swasta sebesar 30 tahun. Jadi ternyata di Gili Trawangan kita baru tahu bukan punya masyarakat setempat (izin investasinya). Konsesi punya pemerintah daerah tetapi didapatkan oleh salah satu perusahaan yang sudah 20 tahun lebih tidak menjalankan usahanya, kemudian dia berusaha untuk mendapatkan pendapatan dari usaha di situ. Gubernur datang ke kami dan kami sudah cabut itu izinnya meskipun banyak dinamikanya," tuturnya.

"Bagi kami kepentingan rakyat jauh di atas segalanya. Komitmen kami sudah jelas untuk rakyat. Kalau pengusahanya benar kami bantu, tetapi kalau pengusahanya agak sedikit Abu Nawas ya enggak bisa kami teruskan," lanjut Bahlil.

Selain itu, dari jumlah investasi mangkrak sebesar Rp708 triliun, Bahlil sudah menyelesaikan Rp558,7 triliun atau setara 78,9%. Di pertengahan tahun ini, pihaknya menargetkan semua investasi mangkrak dapat terselesaikan.

Jika belum selesai, pihaknya akan mengambil perizinan dari investasi tersebut dan menganggap bahwa perusahaan tersebut tidak serius untuk menjalankan investasinya. "Kami juga laporkan awal bulan kemarin kami tanda tangan MoU dengan Foxconn dan akan masuk di Batang. Dia akan melakukan investasi di bidang mobil listrik, baterai listrik, motor listrik, dan membangun spare part telekomunikasi dengan mengembangan ekspansi pabriknya dengan negara lain selain Indonesia," ujarnya.

"Kami juga datang ke Taiwan dan ada yang melarang kehadiran saya di sana, tetapi saya bilang selama tidak ada undang-undang yang melarang kita dagang. Kita enggak usah takut kepada negara tertentu. Kita harus mengedepankan sistem ekonomi bebas aktif," sambung Bahlil.

Bahlil menegaskan bahwa pada tahun ini, Indonesia juga akan memasuki tahun hilirisasi batu bara. Investasi DME sudah dilakukan oleh perusahaan Amerika Serikat yakni Air Product and Chemical Inc (APCI) dan akan tereksekusi US$15 miliar.

Selain itu, investasi DME yang dikelola di Sumatra Selatan baru-baru ini juga dikatakan menghasilkan 1.400.000 DME dari 6 juta batu bara kalori rendah. Bahlil pun menargetkan satu sampai dua tahun ke depan minimal 50% impor gas elpiji bisa dijadikan hilirisasi dalam negeri lewat batu bara.

"Maret 2022 juga kami akan membangun metanol di Kalimatan Timur dengan perusahaan KPC. Itu investasinya dari Amerika juga dan masuknya US$2,1 miliar. Di Sumatra Selatan juga US$2,3 miliar. Ke depan kami akan membuat investasi hilirisasi batu bara juga. Terakhir di Cepu kami akan membangun investasi metanol dan etanol dari Amerika. Kami meyakinkan bahwa investasi di 2022 mulai merata baik Amerika, Uni Eropa, Uni Emirat Arab, dan lainnya," tuturnya.

Baca juga: Minyak Goreng di Malaysia cuma Rp8.500 ini Jawaban Mendag

"Untuk OSS kami sudah mengeluarkan NIB (Nomor Induk Berusaha) sebesar 733.957 NIB dengan usaha mikro 92%, usaha kecil 4%, usaha besar 1,18%, usaha menengah 0,87%. Total proyeknya 1.757.000," pungkas Bahlil. (OL-14)

BERITA TERKAIT