19 January 2022, 10:26 WIB

Kebutuhan Pembiayaan Korporasi pada Desember 2021 Meningkat 


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Ist
 Ist
Logo dab Gedung Bank Indonesia di Jakarta.

BANK Indonesia mencatat pada Desember 2021, kebutuhan pembiayaan korporasi tercatat meningkat di bulan sebelumnya.

Hal tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pembiayaan korporasi Desember 2021 sebesar 17,4% lebih tinggi dari SBT 14,8% pada 2021.

Peningkatan kebutuhan pembiayaan terjadi pada beberapa sektor seperti pertanian, reparasi mobil dan motor, serta penyediaan makanan minuman yang diperlukan untuk mendukung aktivitas operasional (81,7%), membayar kewajiban jatuh tempo (28,8%), mendukung pemulihan domestik (25,0%, dan aktivitas investasi (17,3%).

Responden menginformasikan bahwa kebutuhan pembiayaan mayoritas masih dipenuhi sendiri (55,8%), diikuti oleh pemanfaatan fasilitas kelonggaran tarik (9,6%) dan pinjaman/utang dari perusahaan induk (8,7%).

Sementara sumber pembiayaan yang berasal dari penambahan pinjaman perbankan dalam negeri (8,7%) pada Desember 2021 tercatat melambat dari bulan sebelumnya. 

"Pemilihan sumber pembiayaan terutama dipengaruhi oleh aspek kemudahan dan kecepatan perolehan dana (76,9%), biaya suku bunga yang lebih murah (19,2%), dan optimalisasi fasilitas eksisting (17,3%)," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, Rabu (19/1).

Kebutuhan pembiayaan 3 bulan yang akan datang (Maret 2022) diprakirakan melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Ini terindikasi dari Saldo Bersih Tertimbang (20,2%, lebih rendah dari SBT 23,8% pada bulan sebelumnya (Februari 2022).

"Perlambatan kebutuhan pembiayaan antara lain disampaikan oleh responden pada sektor pengolahan dan informasi dan komunikasi (infokom), terutama disebabkan oleh prakiraan masih lemahnya permintaan,"

Di sisi lain, beberapa sektor masih meningkat kebutuhan pembiayaannya, seperti transportasi dan pergudangan, jasa kesehatan, jasa keuangan, penyedia makanan dan minuman, terutama untuk mendukung aktivitas operasional (85,8%), mendukung pemulihan permintaan dalam negeri (25,7%), dan membayar kewajiban jatuh tempo yang tidak bisa di-roll over (23,9%).

"Responden menyampaikan pemenuhan dana 3 bulan mendatang masih bisa dipenuhi dari dana sendiri (68,1%), diikuti pemanfaatan fasilitas kelonggaran tarik (11,5%) yang terindikasi melambat dibandingkan bulan sebelumnya,"

Sementara itu, sumber pembiayaan melakukan penambahan pinjaman ke perbankan dalam negeri (22,2%), dan pinjaman/utang dari perusahaan induk (16,8%) pada Desember 2021 tercatat meningkat dari November 2021, yang sebelumnya masing-masing 14,2% dan 11,0%. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT