18 January 2022, 18:51 WIB

Mendag: Ekspor 2021 Indonesia Tertinggi Sepanjang Sejarah


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara/Aswaddy Hamid.
 Antara/Aswaddy Hamid.
Pekerja memuat minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ke dalam kapal tanker di Pelabuhan Dumai, Dumai, Riau, Rabu (3/2/2021).

NILAI ekspor Indonesia pada periode Januari-Desember 2021 mencapai US$231,54 miliar atau naik 41,88% dibanding periode yang sama di 2020. Capaian ekspor periode tersebut pun mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

"Jadi pada 2021 ekspor kembali mencapai lebih dari US$200 miliar, yaitu US$231,5 miliar. Ini angka tertinggi dari 2004," ujar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam konferensi pers Outlook Perdagangan 2022, Selasa (18/1). Lutfi mengatakan terdapat perbedaan antara 2021 dan 2011, yakni 4 dari 5 produk ekspor berupa produk manufaktur yaitu CPO dan turunannya, besi baja, produk elektronik dan elektronika, dan kendaraan bermotor serta suku cadangnya. 

Capaian surplus neraca perdagangan nonmigas nasional sebesar US$48,60 miliar. Namun, defisit migas juga besar pada 2021, sehingga total dari surplus nasional kira-kira sekitar US$35 miliar.

"Jadi kalau kita lihat sekarang angka total US$231 miliar berasal dari nonmigas kira-kira sekitar US$219 miliar atau tumbuh 41,52% dibandingkan periode yang sama dan ekspor migas sebesar US$12,28 miliar, tumbuh 48,78% dibandingkan periode sebelumnya," papar Lutfi.

Impornya mencapai US$196,20 miliar atau tumbuh 38,59%. Angka ini sehat karena pada 2020 pertumbuhan impor nasional negatif.

"Jadi impor Indonesia senilai US$196,2 miliar yakni US$25,53 miliar impor migas dan impor nonmigas kita US$170,67 miliar. Ini membuat perdagangan pada 2021 yang tertinggi sepanjang sejarah yaitu US$35,34 miliar naik dari US$21,62 miliar pada 2020," jelas Lutfi.

Perdagangan tersebut berasal dari transaksi antara Indonesia dengan Tiongkok yang tumbuh pesat, yakni ekspor-impor mencapai US$100 miliar. Pada 2021, perdagangan ini defisit US$2,45 miliar. Angka ini merupakan yang terendah sejak penandatanganan Tiongkok ASEAN Free Trade Agreement pada 2006 atau 2007 silam. "Jadi nilai ini yang terendah dan ini merupakan defisit terendah karena angkanya hanya sepertiga daripada tahun lalu yaitu US$7,85 miliar yang sebenarnya juga terendah karena sebelumnya pada 2019 lebih dari US$15 miliar dolar," kata Lutfi. 

Baca juga: Target Produksi Tahunan Toyota Direvisi karena Kekurangan Cip

Sedangkan surplus tertinggi berasal dari Amerika Serikat yakni pada 2021 tumbuh dari US$10,04 miliar menjadi US$14,52 miliar atau tumbuh 44,63%. Perdagangan RI juga surplus dengan Australia yaitu US$6,2 miliar. "Yang juga sangat menggembirakan yakni pertumbuhan dan perdagangan kita dengan Filipina yaitu tumbuh sekitar 38% dari US$5,31 miliar menjadi US$7,33 miliar. Sepertiga dari US$7,33 miliar datangnya dari ekspor otomotif kita," kata Lutfi. (OL-14)

BERITA TERKAIT