14 January 2022, 23:30 WIB

Masih Fokus Garap PLTS, MIND ID Belum Lirik Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik 


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

Antara/Muhammad Adimaja
 Antara/Muhammad Adimaja
PLTS di Kompleks MPR/DPR, Jakarta

BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia, Mining Industry Indonesia (MIND ID) berpandangan prospek tenaga nuklir di Indonesia masih lama digunakan sebagai tenaga listrik. 

Kepala Divisi Institutional Relations MIND ID Niko Chandra mengatakan, pihaknya masih fokus pada pengembangan solar panel sebagai energi terbarukan atau renewable energy. 

"Saat ini kita berfokus kepada pengembangan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Untuk nuklir memang ada arah kesana, tapi masih lama karena memang masih paparan riset dan ini terus kita lihat," jelasnya dalam workshop virtual, Jumat (14/1). 

Dia menyampaikan tenaga nuklir masuk ke dalam salah satu komponen energi yang masuk ke energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. 

Bahkan, salah satu kandungan nuklir yang memiliki potensi sebagai pembangkit tenaga listrik, yakni thorium bakal dikembangkan di Tanah Air. 

"Sejatinya memang Indonesia punya resource yang besar. Apa yang kita punya sumber daya di sana yaitu thorium. Tapi pengembangannya masih belum signifikan," ucap Niko. 

"Di luar (negeri) mengenai thorium sebagai energi besar di masa depan masih on going, tapi di satu sisi ada peluang (di Indonesia)," tambahnya. 

Baca juga : Sinergi dan Kolaborasi Dorong Peningkatan Ekspor Produk Halal Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Co-founder A+ CSR Indonesia/Lingkar Studi CSR Jalal berpendapat, pemakaian tenaga nuklir adalah opsi terakhir sebagai energi bersih di Indonesia. 

Pemakaiannya pun disebut masih 20 tahun lagi atau lebih. Hal ini dikarenakan lamanya riset uji kelayakan tenaga nuklir. 

"Kita lihat mandatnya nuklir adalah pilihan terakhir. Kemudian masuknya juga setelah 2040, 20 tahun lagi. Kita bisa bicara lebih jelas lagi karena kalau sekarang masih sampai riset," pungkasnya. 

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memasukkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ke dalam peta menuju net zero emission atau karbon netral pada 2060.  

"Berdasarkan skenario net zero emission, PLTN ditargetkan dibangun pada 2049," ungkap Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana beberapa waktu lalu.  

Ada beberapa perusahaan besar dari luar negeri yang kepincut untuk bekerja sama membangun PLTN di Indonesia, seperti dari Amerika. 

Diketahui, Thorcon International Pte Ltd, perusahaan nuklir asal Amerika Serikat berencana mengoperasikan pembangkit tenaga nuklir dengan kandungan thorium atau PLTT di Indonesia, tepatnya di Bangka Belitung. (OL-7)

BERITA TERKAIT