07 January 2022, 18:15 WIB

Antisipasi Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed, Pemerintah Didorong Keluarkan Kebijakan DHE 


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Antara/Dhemas Reviyanto
 Antara/Dhemas Reviyanto
Ilustrasi nilai tukar urpaih ke Dolar AS

KEPALA Ekonom Permatabank, Josua Pardede menegaskan, pemerintah perlu mendorong kebijakan DHE (Devisa Hasil Ekpor) bekerja sama berbagai otoritas terkait melalui berbagai insentif sebagai upaya untuk meminimalisir dampak percepatan proses kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. 

"Hal ini akan mendorong harapan permintaan akan Dolar AS dapat tertahan," ungkapnya kepada Media Indonesia, Jumat (7/1). 

Kebijakan itu pun akan ditambahkan dengan langkah Bank Indonesia (BI) yang secara jelas menyatakan belum akan merespon kenaikan suku bunga The Fed dengan kenaikan suku bunga dalam negeri yang diungkapkan dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) terakhir di tahun 2021. 

Menurut Josua, hal tersebut menyiratkan bahwa BI akan mengintervensi melalui instrument lainnya dalam menahan laju depresiasi Rupiah yang mungkin terjadi. 

"Hal ini wajar dilakukan oleh BI, mengingat kenaikan suku bunga di tengah proses pemulihan akan mendorong perlambatan pertumbuhan ekonomi," kata Josua. 

Baca juga : Bahlil Sebut IUP 2.078 Perusahaan Tambang Sudah Pasti Dicabut 

Secara umum, lanjutnya, tingkat keparahan dari kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan cukup terbatas pada semester I 2022, mengingat para investor sudah memperkirakan terlebih dahulu, dengan mempertimbangkan sejarah dari taper tantrum. 

Tidak hanya itu, eksposur dari pasar obligasi Indonesia terhadap investor asing juga dikatakan jauh lebih rendah dibandingkan pada 2013-2015 akibat kepemilikan investor asing yang berada di bawah 20%. 

"Cadangan devisa pada akhir 2022 diperkirakan akan berada di kisaran US$150-152 miliar," tuturnya. 

Dengan mempertimbangkan solidnya fundamen ekonomi Indonesia, Josua menilai cadangan devisa yang tetap berada dalam posisi yang kuat diperkirakan akan mendukung terjaganya stabilitas rupiah di tengah normalisasi kebijakan moneter The Fed. 

"Langkah-langkah stabilisasi triple intervention juga akan dilakukan oleh BI untuk mengelola stabilitas makro sebelum mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan dalam rangka menjangkar ekspektasi inflasi dan stabilitas rupiah," pungkas Josua. (OL-7)
 

BERITA TERKAIT