07 January 2022, 15:31 WIB

Sempat Mangkrak, Bahlil Pastikan Pabrik Petrokimia Lotte Chemical Berjalan


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

MI/INSI NANTIKA JELITA
 MI/INSI NANTIKA JELITA
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meneken MoU sehubungan dengan Line Project Lotte Chemical, di Hotel Mulia, Jakarta, Jumat.

MENTERI Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memastikan pabrik petrokimia Lotte Chemical yang dibangun di Cilegon, Banten, telah mulai berjalan pada tahun ini. Pasalnya, proyek tersebut sempat mangkrak bertahun-tahun.

Bahlil bersama Vice Chairman & CEO Lotte Group Chemical Business Sector Kim Gyo Hyun meneken Nota Kesepahaman (MoU) sehubungan dengan Line Project yang mengacu pada ethylene cracker dan kompleks petrokimia hilir, di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Jumat (7/1).

"Ini adalah proyek tindak lanjut dari yang sudah dilakukan Lotte. Investasi ini mangkrak sampai 4-5 tahun, tapi berkat kerja keras kita semua ini bisa selesai," ujarnya.

Proyek senilai US$4 miliar ini sebenarnya sempat dilakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking oleh pemerintah pada Desember 2018. Namun, karena terkendala lahan dan dihadapkan dengan kondisi pandemi, proyek itu mandek dalam beroperasi. Sehingga, pada tahun ini menjadi babak baru bagi pabrik industri petrokimia itu, khususnya pada proyek naphtha cracker.

"Investasi hampir Rp60 triliun ini memiliki masalah soal tanah. Tanah di Cilegon itu minta ampun. Menyelesaikan investasi mangkrak itu ada 'hantunya'. Tapi kita sudah selesaikan itu. Kita harus membangun persepsi positif kepada pelaku usaha agar mereka nyaman," ungkap Bahlil.

Baca juga: Jelang Listing, Pemesanan Saham IPO Semacom 'Oversubscribe' 40 Kali

Pabrik petrokimia tersebut akan memiliki kapasitas produksi ethylene sejumlah satu juta ton per tahun, propylene sebanyak 520 ribu ton per tahun dan bisa hasilkan 250 ribu ton polypropylene per tahun.

Menteri Investasi menambahkan alasan pemerintah mendorong agar kerja sama proyek dengan perusahaan Korea Selatan itu segera terealisasi karena industri ini akan melahirkan substitusi impor petrokimia.

"Memang ada orang-orang yang ingin impor terus. Enggak boleh negara dipermainkan. Jadi kita ingin ada industri dalam negeri yang melahirkan produk substitusi impor agar berdaulat," terangnya.

Sementara, Kim Gyo Hyun mengatakan Line Project yang tertunda karena pandemi dan ketidakpastian ekonomi akhirnya bisa menandatangani proyek EPC (Engineering, Procurement, and Construction) antara PT Lotte Chemical Indonesia dengan Lotte Engineering & Construction serta Hyundai.

"Naphtha cracker yang akan dibangun ini memiliki arti penting bagi industri petrokimia di Indonesia. Proyek ini akan produksi komersial pada 2025. Saya percaya proyek line memiliki hubungan erat dengan ekonomi Indonesia," tutupnya. (A-2)

BERITA TERKAIT