20 December 2021, 20:39 WIB

Ditemukannya Varian Covid-19 Omikron Bikin Rupiah dan IHSG Tertekan 


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara/Hafidz Mubarak A
 Antara/Hafidz Mubarak A
Pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia

DALAM perdagangan Senin (20/12), nilai tukar rupiah ditutup melemah 46 poin dari dari penutupan sebelumnya di level Rp14.352. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terpantau terkoreksi 54,82 poin (-0,83%) ke level 6.547,11. 

Pemerintah Indonesia terus mewaspadai penyebaran varian Covid-19 Omikron di tanah air yang sampai saat ini terdeteksi pada beberapa pasien. 

Sehingga memasuki periode Natal dan Tahun Baru, pemerintah akan lebih waspada akan lonjakan kasus Covid-19 varian Omikron. Pasalnya, masyarakat akan kembali melakukan perjalanan ke luar kota yang diprediksi jutaan orang akan bepergian. 

"Ini menjadi beban tersendiri bagi Pemerintah untuk mengantisipasinya apalagi Omikron penyebarannya 70 kali dari varian delta. Namun masyarakat sepertinya tidak peduli dengan anjuran Pemerintah tentang larangan bepergian," kata Ibrahim Assuaibi Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Senin (20/12). 

Dikhawatirkan, jika masyarakat banyak bepergian keluar kota, sudah pasti pemerintah pada 2022 akan merogoh kocek lebih besar lagi untuk penanganan pasien Covid-19 jika terjadi lonjakan kasus. 

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebut bahwa kasus baru Omikron dapat meningkat dua kali lipat selama 1,5 hingga tiga hari ke depan. Varian baru korona itu telah dilaporkan menyebar di 89 negara global. 

Selain itu, WHO menyebut Omikron telah menyebar dengan cepat di negara-negara dengan tingkat kekebalan populasi yang tinggi. Namun, pihaknya belum mengetahui secara jelas apakah ini didorong oleh kemampuan virus untuk menghindari kekebalan, peningkatan penularan yang melekat atau kombinasi antara keduanya. 

Badan kesehatan dunia tersebut sebelumnya menetapkan varian Omikron sebagai variant of concern pada 26 November 2021, dua hari setelah varian tersebut terdeteksi di Afrika Selatan. 

Namun hingga saat ini diakui masih banyak yang belum diketahui tentang varian omikron, termasuk tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya. 

Baca juga : Periode Nataru, Pelni Operasikan 26 Kapal Penumpang Jarak Jauh

"Data keparahan klinis Omikron masih terbatas. Sehingga lebih banyak data diperlukan untuk memahami profil keparahan dan bagaimana tingkat keparahan dipengaruhi oleh vaksinasi dan kekebalan yang sudah ada sebelumnya," ujar WHO dalam update terbarunya. 

Dari eksternal, nilai dolar naik terhadap mata uang lainnya seiring karena Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada Maret 2022, sementara Eropa bergulat dengan virus Omikron yang melonjak. 

Bank sentral AS mengumumkan keputusan kebijakan mereka minggu lalu, dengan berubah sikap menjadi hawkish. Artinya, bank sentral akan mempercepat program pengurangan aset hingga berakhir pada Maret 2022 dan memproyeksikan kenaikan suku bunga pada tahun yang sama. 

Bank of England telah menaikan suku bunga menjadi 0,25%, menjadi sebuah langkah mengejutkan dan juga mengumumkan rencana pengurangan aset selama kuartal mendatang. 

Kemudian, transmisi cepat varian Omikron juga menjadi radar investor. WHO mengatakan pada hari Sabtu bahwa jumlah kasus Omikron berlipat ganda dalam 1,5 hingga 3 hari di daerah dengan infeksi lokal, tetapi tingkat keparahan variannya tetap tidak jelas. 

Di bidang Covid-19, penasihat medis utama Presiden AS Joe Biden, Anthony Fauci mengatakan penutupan wilayah tidak akan diperlukan meskipun Covid-19 melonjak lagi. 

Selain itu, beberapa negara Eropa mungkin memperketat pembatasan atas melonjaknya kasus Omikron menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. 

Inggris memperingatkan bahwa pembatasan baru dapat diberlakukan pada Natal, karena negara itu mendeteksi 12.000 kasus pada hari Minggu. Sedangkan Belanda sudah melakukan lockdown. (OL-7)

BERITA TERKAIT