17 December 2021, 21:49 WIB

Membangun UKM Lewat Desain dan Pelatihan yang Tepat dan Efektif 


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

Dok Kemenkop dan UKM
 Dok Kemenkop dan UKM
Deputi Bidang UKM Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman

DEPUTI Bidang UKM Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman menekankan, membangun UKM memerlukan desain yang tepat, termasuk pelatihan yang efektif. 

"Belajar dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, pelatihan atau peningkatan SDM harus dilakukan ahlinya, bukan pekerja sambilan," tegas Hanung, saat Konferensi Pers secara daring terkait review program Kemitraan Rantai Pasok dan Kampus UKM, di Jakarta, Jumat (17/12). 

Selain itu, lanjut Hanung, pemberian materi pelatihan juga dilakukan pelaku usaha langsung atau praktisi, seperti lawyer, ahli marketing dari perusahaan, dan sebagainya.  

Tahun ini, KemenkopUKM berkolaborasi dengan Sekolah Ekspor, Sippo, Prasetiya Mulya (Manajemen Bisnis UKM),Yayasan Dana Bhakti Astra (YDBA) Universitas Padjajaran (UKM bidang perternakan), IPB (UKM Perikanan dan Pertanian), Telkomsel, yayasan Dharma Bhakti Astra, Indomarco, Lapenkop, Sekolah Ekspor, Star Training & Consultant, dan LSP Dekopin. 

Hanung menambahkan, para UKM sangat antusias dengan pelatihan daring, melalui rangkaian Webinar Nasional Intensif Kampus UKM yang diikuti 9.464 partisipan. Terdiri dari 7.085 peserta webinar peningkatan kapasitas usaha dan 2.379 peserta pelatihan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). 

"Salah satu indikator kinerja kami adalah peningkatan kompetensi SDM UKM," tandas Hanung.  

Berdasarkan pengolahan hasil data pre test dan post test dari keseluruhan pelatihan yang dilaksanakan (79 angkatan), telah dilakukan sampling 20 angkatan. Hasilnya, peserta pelatihan yang mengalami kenaikan kompetensi sebanyak 70,17% orang dengan kenaikan nilai rata-rata 23,97%.  

Baca juga : Dongkrak Ekspor, Garuda Perluas Layanan Kargo ke Vietnam 

"Hal ini akan menjadi evaluasi kami untuk melakukan perbaikan berkelanjutan," ungkap Hanung. 

Di samping itu, Hanung menjabarkan, sesuai mandat PP 7 Tahun 2021 menyebutkan bahwa kemitraan menjadi salah satu pendorong loncatan kinerja UMKM. "Tahun ini, kami melakukan kemitraan dengan beberapa usaha besar, BUMN, hingga retail internasional," tukas Hanung. 

Di antaranya, dalam program perluasan pasar produk UKM melalui UNIQLO Neighborhood Collaboration, Teras Indonesia IKEA, InaProduct, Accor Group, MNC Group, dan lain-lain. 

UKM juga didorong masuk ke rantai nilai industri dengan melakukan piloting bersama 9 BUMN, seperti Pertamina, Krakatau steel, PLN, Perhutani, Kimia Farma, RNI, BRI, dan Telkomsel. "Data sementara menunjukkan 304 UKM bermitra dengan BUMN," ungkap Hanung. 

Dalam kesempatan itu, Hanung merujuk harus belajar dengan Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. "Di sana, UMKM-nya menjadi bagian rantai pasok industrinya mulai dari hulunya. Bahkan, di Jepang, UMKM menyediakan komponen otomotifnya," imbuh Hanung. 

Oleh karena itu, dalam melaksanakan efektifitas program, Hanung menyebut pihaknya memerlukan insight, analisis keberhasilan, dan manfaat programnya dari lembaga survei/riset independen. 

"Dalam menjalankan program pada tahun-tahun mendatang, sejak awal kami akan melibatkan lembaga survei atau riset independen sebagai mitra. Di antaranya, melakukan survei terkait dampak program dan kebijakan,  melakukan fungsi visualisasi analisis data dan implementasi program yang lebih terukur," pungkas Hanung. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT