22 November 2021, 22:24 WIB

Swedia Minati Investasi Teknologi Listrik untuk Transjakarta


Fetry Wuryasti | Ekonomi

MI/ANDRI WIDIYANTO
 MI/ANDRI WIDIYANTO
 Bus Transjakarta melintas di jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (4/11/2021).

SWEDIA berkeinginan ikut serta dalam proyek elektrifikasi sistem Transjakarta untuk mentransformasi salah satu sistem bus terbesar di dunia untuk menjadi model yang sepenuhnya bertenaga listrik.

Perusahaan teknologi Swedia telah bekerja sama dengan Transjakarta, untuk memberikan dukungan.

Pemerintah Indonesia dan Swedia juga sedang bekerja sama terkait proyek jaringan pintar dan efisiensi energi dengan PLN. Perusahaan Swedia juga ikut dalam kerja sama untuk teknologi geothermal, energi ombak, angin dan materi-materi berkelanjutan, hingga meningkatkan bauran energi terbarukan.

"Tahun ini kami memulai kemitraan jangka panjang dalam energi terbarukan. Swedfund akan akan memberikan pendanaan untuk studi kelayakannya," kata Komisioner Bisnis Perdagangan Swedia Erik Odar, dalam Pekan Kemitraan Keberlanjutan Swedia Indonesia atau Sweden Indonesia Sustainable Partnership (SISP), Senin (22/11).

Pendanaan juga akan diberikan untuk studi kelayakan proyek waste to energy, untuk mengurangi jumlah debit sampah yang masuk ke Sungai Citarum, serta memberikan pengetahuan terkait sistem manajemen sampah dan fasilitas biogas di Swedia.

Duta Besar Indonesia untuk Swedia Kamapradipta Isnomo mengatakan Indonesia dan Swedia bersama mengeksplorasi kolaborasi-kolaborasi baru. Dalam proses tersebut, kami sudah mempunyai hubungan yang lebih dekat mencakup dunia usaha dan kementerian untuk mendefinisikan tujuan-tujuan, melanjutkan dialog untuk memastikan kita bisa menjalankan kemitraan dengan baik.

Menurutnya, SISP akan memainkan peran lebih penting sehubungan dengan mempertahankan momentum yang baik, memperkuat komitmen yang ada dan memberi manfaat bagi berbagai kerja sama di masa depan.

SISP sudah menjadi platform yang penting bagi para pemangku kepentingan di kedua negara untuk berbagi pengalaman dan informasi, serta menetapkan agenda kolaboratif untuk mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan.

Selama tahun lalu, kerja sama bilateral Swedia dan Indonesia di level teknis dan politis sudah mencapai kemajuan besar, meski dilakukan di tengah pandemi.

"Kita sudah berhasil membuat join working group untuk energi terbarukan. Pemerintah Indonesia sudah berkomitmen beralih dari penggunaan energi fosil ke bauran energi baru terbarukan," kata Kamapradipta.

Secara kolektif, strategi ini bertujuan untuk memastikan Indonesia berada di jalur yang benar untuk melakukan dekarbonisasi dan Indonesia bermitra dengan Swedia untuk menghadapi tantangan mengembangkan energi terbarukan.

Indonesia berusaha berkontribusi terhadap ambisi dan tujuan pembangunan dan memanfaatkan pengalaman yang sudah dialami oleh Swedia.

Baca juga: Swedia Ingin Berpartisipasi dalam Proyek Ibu Kota Negara

Pada awal Desember 2020, Indonesia-Swedia mencapai pengembangan positif sehubungan dengan kerja sama bidang kesehatan, berbagi informasi dan pengetahuan, melakukan pelatihan, seminar dan juga workshop serta meningkatkan kemitraan antara lembaga akademis, pemerintah dan juga dunia usaha.

Dia juga menyampaikan sudah ada perkembangan yang baik dalam kerangka business to business, terkait teknologi elektrifikasi Swedia untuk mendukung kendaraan listrik di Indonesia dan pengembangan infrastrukturnya.

"Saya juga menyadari ada banyak minat dari perusahaan Swedia untuk berpartisipasi mengembangkan Ibu Kota Negara baru Indonesia. Kunjungan Menteri Bappenas ke Swedia baru-baru ini membahas potensi kolaborasi dan investasi terkait hal tersebut. Saya yakin Swedia bisa berkontribusi membangun Ibu Kota Negara baru Indonesia yang berupa kota pintar, inklusif dan berkelanjutan yang dibiayai oleh investasi dari perusahaan-perusahaan Swedia," kata Kamapradipta. 

Maka dia mendorong terjadinya hasil kerja sama yang nyata dengan kerangka waktu yang singkat, melibatkan berbagai pemangku kepentingan merealisasikan rencana dan tujuan.

Pada 2022, Indonesia memegang kunci untuk membagikan agenda pertemuan G20, mulai 1 Desember 2021-30 November 2022. Dalam tema "Recover Together Recover Stronger", kepemimpinan Indonesia berkomitmen mempromosikan agenda pembangunan yang inklusif, berpusat kepada masyarakat, ramah lingkungan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Saya merasa Swedia menjadi mitra yang baik dalam hal ini. Kesuksesan yang dibangun Swedia antara pemerintah, akademisi dan pelaku mendorong inovasi yang terus-menerus," kata Kamapradipta. 

Ada banyak peluang yang bisa diadopsi Indonesia dari praktek-praktek terbaik dan pengalaman Swedia, seperti kerja sama antar universitas, pengembangan kapasitas, dan dialog kebijakan antara pemangku kepentingan antar dua negara. Indonesia juga bisa belajar dari Swedia terkait ekonomi biru dalam G20 working group.

"Kerja sama ekonomi biru menjadi sebuah titik menarik dalam mengembangkan ekonomi biru dan peta jalan untuk peta ekonomi biru di Indonesia," kata Kamapradipta. (A-2)

BERITA TERKAIT