18 November 2021, 21:26 WIB

Membaiknya Perekonomian Bikin Nilai Tukar Rupiah Cenderung Stabil 


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara/Indiranto Eko Suwarso
 Antara/Indiranto Eko Suwarso
Ilustrasi nilai tukar rupiah

BANK Indonesia mencatat nilai tukar rupiah pada 17 November 2021 melemah 0,53% secara point to point dan 0,56% secara rerata dibandingkan dengan level Oktober 2021. 

"Pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh aliran masuk modal asing yang terbatas di tengah persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik dan terjaganya pasokan valas domestik," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai paparan Hasil RDG BI, Kamis (18/11). 

Dengan perkembangan tersebut, rupiah sampai dengan 17 November 2021 mencatat depresiasi sebesar 1,35% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020, lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India, Malaysia, dan Filipina. 

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.  

Baca juga : Bank Indonesia Prakirakan Pertumbuhan Ekonomi Global 5,7% pada 2021

Dua faktor yang berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar, yaitu faktor fundamental dan faktor teknikal. Dari sisi fundamental, Perry katakan semua indikatornya mendukung agar rupiah bergerak stabil, bahkan ada ruang untuk terapresiasi atau menguat.  

"Sumbernya dari defisit transaksi berjalan yang tetap rendah. Kemudian prospek ekonomi Indonesia membaik, dan perbedaan imbal hasil suku bunga antara Surat Berharga Negara (SBN) dengan US Treasury yang tetap menarik," kata Perry. 

Faktor teknikal berasal dari rencana normalisasi kebijakan moneter dari The Fed. Rencana tersebut mempengaruhi pergerakan nilai tukar dari waktu ke waktu.  

"Maka perlu dicermati lebih lanjut. Kejelasan komunikasi The Fed dipahami oleh pasar dan pelaku ekonomi global. Meski ketidakpastian belum mereda," kata Perry. (OL-7)

BERITA TERKAIT