18 November 2021, 11:42 WIB

Inflasi AS Mulai Mengkhawatirkan Pasar


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara/Fakhri Hermansyah.
 Antara/Fakhri Hermansyah.
Ilustrasi

Inflasi merupakan sesuatu yang menjadi pemberat pasar dalam beberapa pekan terakhir. Kekhawatiran inflasi terus tinggi yang tidak kunjung turun, membuat pelaku pasar dan investor khawatir suku bunga Bank Sentral di berbagai belahan dunia akan mulai naik lebih cepat daripada yang diperkirakan, termasuk Bank Sentral AS, The Fed.

Sikap Gubernur The Fed Jerome Powell yang cenderung lebih menanti perkembangan selanjutnya, membuat pasar resah.

"Kami melihat dengan inflasi tidak kunjung turun, mungkin sudah saatnya The Fed menenangkan pasar, tidak lagi dengan kata kata, “inflasi hanya akan terjadi sementara"," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (18/11).

Powell pada Jackson Hole kemarin, Powell menerangkan lima cara untuk menilai bagaimana prospek inflasi di masa yang akan datang, dan memberikan keyakinan kepada pelaku pasar dan investor untuk tidak perlu khawatir. Namun masalahnya, inflasi Amerika kemarin naik hingga 6,2%, tertinggi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.

Inflasi tersebut didominasi oleh mobil, makanan, bensin, listrik, dan minyak. Personal consumption AS naik hingga 4,4% (yoy) pada bulan September lalu, dan merupakan kenaikkan tertinggi sejak 1991 atau 30 tahun terakhir.

Pada bulan Agustus silam, Powell menyatakan bahwa kenaikan inflasi disebabkan naiknya harga dalam kelompok barang dan jasa yang terkena dampak langsung dari pandemi, sehingga mendorong inflasi naik lebih cepat.

Harga tahunan untuk pemesanan barang-barang tahan lama secara umum mencapai 7,3% pada bulan September kemarin, tertinggi sejak 1981 atau 40 tahun.

Stimulus fiskal yang diberikan juga memberikan dorongan permintaan yang kuat, sehingga menghadirkan likuiditas uang tunai di pasar dalam jumlah yang besar.

Upah yang juga naik sehingga semakin mendorong inflasi untuk ikut meningkat. Gaji pekerja terus naik sejak masa pemulihan ekonomi. Gaji pekerja yang naik juga membuat inflasi konsisten untuk tinggi hingga tahun depan.

Beberapa faktor terus membuktikan bahwa inflasi akan konsisten untuk berada di atas untuk jangka waktu yang lebih lama. Tidak hanya itu, ekspektasi inflasi untuk jangka panjang juga naik.

Ekspektasi inflasi di lingkaran konsumen dan investor juga terus meningkat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk energi.

Jika ekspektasi ini berlanjut, maka ada kemungkinan upah akan tertahan untuk menjaga inflasi, dan perusahaan akan mencoba untuk menaikan harga sebagai bagian dari menutupi biaya yang naik. "Inflasi masih akan berkecamuk apabila Powell tidak bertindak tegas. Oleh sebab itu pasar berharap Powell bertindak, tanpa mengurangi prospek pemulihan ekonomi yang sedang berjalan," kata Nico. (OL-12)

BERITA TERKAIT