12 November 2021, 19:08 WIB

Kementerian ESDM Jabarkan Kondisi Industri Batubara Domestik


Fetry Wuryasti | Ekonomi

ANTARA/Makna Zaezar
 ANTARA/Makna Zaezar
 Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (1/9/2021). 

STAF Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif menjabarkan kondisi hulu komoditas berdasarkan data tahun 2020.

Ia menjabarkan, Indonesia memiliki total sumber daya dan cadangan batubara masing-masing 144 miliar ton dan 39 miliar ton, yang diprediksi dapat bertahan hingga 70 tahun dengan produksi batubara mencapai 570 juta ton dan serapan domestik sekitar 132 juta ton.

Jenis kalori batu bara sedang dan rendah mendominasi cadangan hingga lebih dari 90%. Biaya produksi batubara Indonesia kompetitif berkisar US$16-US$45/ton. 

"Diproyeksikan akan terjadi penurunan permintaan batubara di 2050, disebabkan pengetatan peraturan lingkungan hidup khususnya untuk power plant dan penggunaan energi baru terbarukan sebagai sumber energi primer," ujarnya dalam Webinar Strategis Hilirisasi Batubara, Jumat (12/11).

Dengan demikian ke depan, akan terjadi transisi penggunaan batubara sebagai sumber karbon baik untuk bahan baku kimia ataupun material karbon maju. 

Baca juga: Strategi Dirut PTBA Mengatasi Sunset Batubara Sebagai Sumber Energi

Berkaitan industri hilir batubara di Indonesia, berdasarkan benchmarking dengan AS, Tiongkok, dan India, yang termasuk top 5 negara dengan cadangan terbesar di dunia, Indonesia perlu mengambil langkah untuk mengoptimalkan peran dan nilai cadangan batubara.

Ini terutama untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku untuk melengkapi rantai pasok industri nasional.

Opsi yang tersedia adalah memaksimalkan hilir batubara dan penggunaannya untuk keperluan domestik, namun tidak terbatas hanya untuk PLTU. Industri hilir batubara yang diperkirakan akan terus berkembang adalah pertama industri batubara ke kimia menghasilkan methanol, amonia, dan produk turunan lainnya.

Kedua, industri batubara ke fuels yang menghasilkan Dimetil Eter (DME), methanol dan gasolin. Ketiga, industri material karbon maju.

"Saat ini 6 pabrik gasifikasi sedang dibangun untuk menghasilkan sin gas, methanol ataupun amonia, serta 4 rencana pabrik yang akan menghasilkan semi kokas dan karbon aktif," kata Irwandy.

Pembangunan pabrik perlu diakselerasi karena produk yang dihasilkan diperlukan untuk mengurangi impor bahan kimia dasar. Kemudian diharapkan DME yang dihasilkan dari gasifikasi batubara dapat mensubsitusi 100% kebutuhan LPG yang pada 2030, yang selama ini menjadi salah satu penyebab defisit anggaran negara.

Pada proyeksi pasokan dan permintaan domestik, produk DME dan methanol dari batubara diasumsikan mulai dari 2025 untuk mengurangi defisit neraca perdagangan. (A-2)
 

BERITA TERKAIT