09 November 2021, 20:44 WIB

Bank Dunia: Pemulihan Ekonomi Palestina Berjalan Lambat


Mediaindonesia.com | Ekonomi

AFP/Abbas Momani.
 AFP/Abbas Momani.
Warga Palestina berjalan di depan loket penukaran mata uang di kota Ramallah Tepi Barat pada 5 Oktober 2021.

EKONOMI wilayah Palestina menunjukkan tanda-tanda pemulihan tetapi masih menghadapi tantangan serius. Tantangan itu termasuk pengangguran yang sangat tinggi dan kondisi sosial yang memburuk di Gaza. Bank Dunia mengatakan hal tersebut, Selasa (9/11).

"Pada paruh pertama 2021, pertumbuhan ekonomi Palestina mencapai 5,4% dan diperkirakan mencapai 6% tahun ini," kata Bank Dunia dalam suatu laporan. Namun, pertumbuhan ekonomi pada 2022 diprediksi melambat menjadi sekitar 3%.

"Jalan ke depan masih belum pasti," kata Kanthan Shankar, Direktur Bank Dunia untuk Tepi Barat dan Gaza, Palestina. Ia menambahkan bahwa kemajuan tergantung pada tindakan terkoordinasi oleh semua pihak dalam merevitalisasi ekonomi dan menyediakan kesempatan kerja bagi penduduk muda.

Jalur Gaza terpukul keras selama 11 hari konflik dahsyat dengan Israel pada Mei. Ekonomi juga dipengaruhi oleh pembatasan yang diberlakukan untuk membendung penyebaran virus korona.

Di Gaza, daerah kantong Palestina berpenduduk dua juta orang yang dikendalikan oleh Islamis Hamas, pengangguran mencapai 45%. Tingkat kemiskinan telah meningkat menjadi 59% dari 43% lima tahun lalu. "Kondisi kehidupan yang mengerikan dan ketergantungan yang tinggi pada bantuan sosial rakyat Gaza menjadi perhatian khusus," kata Shankar.

Di Tepi Barat yang diduduki Israel, tingkat pengangguran sekitar 17%. "Situasi fiskal Otoritas Palestina (PA) tetap sangat menantang dan tidak lagi dapat meminjam dari bank domestik," kata Bank Dunia.

Baca juga: Israel Klaim Jatuhkan Drone Hamas dari Gaza

Defisit PA diperkirakan mencapai US$1,36 miliar pada 2021. Bank Dunia meminta para donor untuk membantu mengurangi defisit anggaran dan transfer sistematis pendapatan yang diperoleh Israel dari bisnis yang beroperasi di Area C Tepi Barat dalam kendali Israel di bawah Kesepakatan Oslo 1995. "Melepaskan sebagian dari dana ini akan memberikan pembiayaan cepat yang sangat dibutuhkan di masa-masa sulit ini," tambahnya. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT