04 November 2021, 13:42 WIB

Mentan Imbau Kepala Daerah untuk Siap Hadapi Kemarau Panjang


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Ist/Kementan
 Ist/Kementan
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) mengingatkan pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi potensi kemarau panjang awal 2022. Kondisi perubahan iklim yang begitu kompleks akhir-akhir ini mesti ditanggulangi dengan kesiapan stok pangan yang mencukupi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan, semua pihak mesti segera menyadari dengan gejala perubahan iklim di seluruh penjuru dunia. Anomali cuaca yang begitu ekstrem mau tidak mau bakal memengaruhi kondisi pertanian di dalam negeri.

"Baru panas tiba-tiba hujan, pas hujan tiba-tiba banjir, ini gejala La Nina. Begitu besok selesai banjir yang diprediksi sampai Februari (2022), lalu kemarau panjang," ungkapnya dalam acara Pengembangan Hilirisasi dan Ekspor Pangan Lokal secara virtual, Kamis (4/11).

Berdasarkan pengalaman, lanjutnya, selama menjabat kepala desa hingga gubernur kondisi ini selalu berulang. Karena itu, kemarau panjang yang disinyalir parah ini mesti segera ditanggulangi dengan kondisi stok pangan yang cukup banyak.

Syahrul berharap, agar Gubernur dan para Bupati bergegas menyiapkan buffer stock untuk logistik pangan masyarakat. Pihaknya pun tengah berproses untuk menyiapkan hal yang sama dalam dua tahun.

"Pertanian siap tidak? Kita sudah siap simpan makanan tidak?... Sekda bantu saya sampaikan ke bupati untuk berhati-hati dengan ucaca yang ada. Jangan urus yang lain, sebelum urus makanan rakyat, saya siap bantu," kata Syahrul.

Sebagai gambaran, Kementan mencatat, hingga pekan keempat Oktober 2021, stok beras nasional ada sekitar 8,36 juta ton dengan ketahanan 100 hari; jagung sekitar 2,39 juta ton (66 hari); serta bawang merah sekitar 50.804 ton (19 hari).

Kemudian, daging ayam sekitar 234.017 ton (26 hari); telur ayam sekitar 179.485 ton (13 hari); bawang putih sekitar 116.312 ton (75 hari); daging sapi sekitar 50.310 ton (42 hari); dan gula pasir 259.853 ton (33 hari).

Syahrul juga meminta agar stakeholder cukup sigap mengatur pengairan kepada tiap tanaman atau komoditas, yang membutuhkan air nantinya. Pemerintah pusat dan daerah tidak boleh menyerah dengan keadaan cuaca ekstrem ini.

Karenanya, mekanisasi pertanian mesti dimaksimalkan untuk menjaga kelangsungan pertanian ke depan. Intinya, sektor pertanian tidak boleh kalah dengan tantangan iklim yang makin sulit ditebak.

"Kita harus mengisi embung-embung dengan reservoir air yang ada untuk menjadi cadangan. Bisa melalui pipa-pipa tetes atau dripping irrigation, kita harus sampai ke arah itu," tuturnya.

Syahrul juga mengajak bagian Litbang untuk mempersiapkan varietas tani baru yang kuat menghadapi tantangan iklim ekstrem. Dia mencontohkan, varietas padi yang tahan terendam air hingga kuat menghadapi kemarau panjang.

"Kita juga harus mengirit makanan yang akan dimakan, jangan sampai terbuang cuma-cuma sehingga jadi waste atau food loss," pungkas Syahrul. (Des/OL-09)

BERITA TERKAIT