19 October 2021, 16:20 WIB

BI: Inflasi Diprediksi di Bawah Target, Rupiah Perlahan Menguat


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara
 Antara
Pedagang melayani pembeli telur di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta.

BANK Indonesia memperkirakan tingkat inflasi tetap rendah dan mendukung stabilitas perekonomian. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2021 tercatat deflasi 0,04% (mtm), sehingga inflasi IHK sampai September 2021 mencapai 0,80% (ytd).

Secara tahunan, inflasi IHK September tercatat 1,60% (yoy), atau sedikit meningkat dari inflasi Agustus 2021 sebesar 1,59% (yoy). Inflasi inti tetap rendah sejalan dengan belum kuatnya permintaan domestik, terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target.

Adapun inflasi kelompok volatile food melambat disebabkan pasokan barang yang memadai. Sementara itu, inflasi administered prices sedikit meningkat sejalan masih berlanjutnya dampak kenaikan cukai tembakau.

Baca juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi, BI Masih Tahan Suku Bunga Acuan

"Dengan perkembangan tersebut, inflasi diperkirakan berada di bawah titik tengah kisaran 3% plus minus 1% pada 2021. Terjaga dalam kisaran sasaran 3% plus minus 1% pada 2022," papar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Selasa (19/10).

Sedangkan, nilai tukar rupiah terpantau menguat sejalan ketidakpastian pasar keuangan global yang sedikit menurun. Nilai tukar rupiah pada 18 Oktober 2021 menguat 1,44% secara point to point dan 0,33% secara rerata dibandingkan dengan level September 2021.

Baca juga: Tahun Ajaran Baru Punya Andil Besar pada Inflasi Agustus 2021

Penguatan nilai tukar rupiah didorong berlanjutnya aliran masuk modal asing. Hal itu sejalan dengan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik. Lalu, menariknya imbal hasil aset keuangan domestik, terjaganya pasokan valas domestik dan langkah stabilisasi Bank Indonesia.

"Dengan penguatan tersebut, dibandingkan dengan level akhir 2020, rupiah sampai 18 Oktober 2021 mencatat depresiasi yang lebih rendah menjadi 0,43% (ytd). Relatif lebih baik dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lain, seperti India, Malaysia dan Filipina," kata Perry.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT