18 October 2021, 13:40 WIB

Kekebalan Komunal Dorong Ekonomi Tumbuh Tinggi


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
  ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Ekonom senior Chatib Basri.

PERCEPATAN vaksinasi Covid-19 menjadi kunci utama mendorong pemulihan ekonomi di 2022. Meluas dan meratanya vaksinasi akan mendorong kekebalan komunal (herd immunity) yang menjadi prasyarat aktivitas ekonomi bergeliat dan tumbuh tinggi.

Demikian disampaikan ekonom senior Chatib Basri dalam Webinar Bincang APBN 2022, Senin (18/10). Menurutnya target vaksinasi 70% dari total penduduk Indonesia akan menentukan pemulihan ekonomi yang kokoh.

"Jadi saya mau bilang selama herd immunity belum tercapai, selama vaksin roll out belum bisa mencapai 70%-80%, maka ada risiko pemulihan ekonomi itu bentuknya W," ujar Chatib.

Bila pemulihan ekonomi berpola W, maka mau tak mau pemerintah harus kembali mengandalkan APBN sebagai tameng dari dampak pandemi. Karena itu, pemerintah mesti bisa menuntaskan target vaskinasi paling lambat pada triwulan I 2022.

Target herd immunity yang tercapai menurut Chatib dapat menjadi modal besar untuk mencapai target-target lain yang telah ditetapkan dalam APBN 2022. Perekonomian dinilai dapat tumbuh sesuai dengan target di angka 5,2%.

Percepatan vaksinasi jadi keniscayaan untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pasalnya, beberapa proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan lembaga internasional menunjukkan, negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi memiliki peluang untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula.

"AS itu akses vaksin luar biasa. Vaksin roll out sudah mencapai di atas 50%, atau Singapura misalnya sudah 80%, Australia sekitar 80%, kalau kita lihat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang akses vaksinnya luar biasa, itu recovery-nya di 2022 lebih tinggi dari kita," kata Chatib.

Dia yang merupakan mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014 itu menuturkan, saat ini Indonesia hanya jauh lebih baik dari negara tetangga seperti Filipina dan Thailand.

Karenanya, dia mendorong agar pemerintah terus mengakselerasi vaksinasi guna menghindari pemulihan berpola W.

Di kesempatan yang sama, ekonom senior Faisal Basri mengungkapkan, ekonomi Indonesia tak hanya berpotensi mengalami pertumbuhan berpola W, melainkan membentuk pola K. Itu artinya, pemulihan hanya akan terjadi pada sektor atau kelompok tertentu, dan lainnya akan terjun bebas dari kondisi sebelum pandemi.

Dia menilai, target pertumbuhan yang dipatok dalam APBN sejatinya hanya untuk mempermudah hitung-hitungan ekonomi dan keuangan negara. Dalam realisasinya, kebijakan dan dukungan pemerintah pada masyrakat lebih berperan dan menentukan arah pertumbuhan.

"Kalau saya lebih mementingkan kualitas dari pemulihan itu sendiri," kata Faisal.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang mencapai atau pun melampaui target APBN tak akan berarti bila tak berkualitas.

Dalam hal ini, Faisal mendorong agar pemulihan ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan kelompok masyarakat dan tak melulu dinikmati segelintir orang. (Mir/OL-09)

BERITA TERKAIT