17 October 2021, 07:19 WIB

Tren Pemulihan, Penjualan Alat Berat Bergerak Naik


Mediaindonesia.com | Ekonomi

MI/Andri Widiyanto
 MI/Andri Widiyanto
Penjualan alat berat terus meningkat pada triwulan  III 2021. 

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, industri alat berat menunjukkan tren kenaikan penjualan pada triwulan III – 2021. 

Data dari Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) menunjukkan, hingga Agustus 2021, penjualan alat berat di seluruh sektor mencapai 8.821 unit, meningkat 99% dari penjualan pada Januari-Agustus 2020 dengan 4.440 unit.

“Kabar menggembirakan di industri alat berat ini didukung oleh membaiknya situasi pandemi covid-19 serta meningkatnya harga komoditas,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Sabtu (16/10).

Peningkatan penjualan terbesar pada Januari-Agustus 2021 terjadi pada alat berat di sektor pertambangan yang mencapai 206% menjadi 3062 unit, dari 1.001 unit di periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan produk tersebut, jelas Menperin, didorong oleh situasi harga batubara dan nikel yang masih tinggi, serta perkiraan meningkatnya jumlah smelter nikel yang beroperasi. Kemudian, di untuk alat berat di sektor kehutanan meningkat 84% menjadi 1.487 unit, sektor konstruksi naik 64% menjadi 3.449 unit, dan sektor agro sebesar 54,7% menjadi 823 unit.

Sementara itu, produksi alat berat hingga akhir 2021 diperkirakan mencapai 6.000 unit, atau meningkat 75% dibandingkan 2020 dengan 3.427 unit. Industri alat berat dikategorikan berdasarkan empat sektor penggunanya, yaitu sektor agro, kehutanan, konstruksi, serta pertambangan

“Sedangkan untuk di 2022, kami mendapat proyeksi dari Perkumpulan Industri Alat Berat Indonesia (HINABI), peningkatan produksi akan mencapai 30% dari tahun ini, atau mendekati tren di 2018 yang melebihi angka 8.000 unit,” jelas Menperin.

Dilihat dari sektor pengguna, proyeksi pertumbuhan alat berat untuk sektor agro akan dipengaruhi oleh harga minyak nabati (CPO) yang masih akan tinggi. Di sektor konstruksi, permintaan alat berat akan tetap tinggi dengan menurunnya Covid-19 dan berjalannya kemabali proyek-proyek pembangunan. Sedangkan di sektor pertambangan, kebutuhan alat berat tetap besar, mengikuti harga komoditas yang masih tinggi.

 Kemenperin menyebut, sektor industri alat berat termasuk dalam prioritas peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN). Untuk meningkatkan

demand terhadap produk alat berat produksi dalam negeri, Kemenperin juga memberlakukan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) gratis.

“Dengan sertifikasi TKDN, produk alat berat produksi dalam negeri mendapatkan preferensi dalam proyek-proyek pengadaan pemerintah, BUMN, maupun swasta,” ujar Menperin.

Selanjutnya, peningkatan produksi alat berat juga berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan bahan baku, seperti plat baja maupun produk-produk komponen. Kemenperin terus mendukung substitusi impor bahan baku dan bahan penolong agar mencapai 35% pada 2022, termasuk bagi sektor tersebut. (Ins/E-1)

BERITA TERKAIT