08 October 2021, 17:43 WIB

Kuasai Pemasaran, Ciri Petani Milenial Cerdas Berwirausaha


mediaindonesia.com | Ekonomi

Ist
 Ist
Pelatihan Kewirausahaan bagi petani muda Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) di BBPP Lembang, Bandung. 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melengkapi kemampuan dan pengetahuan petani milenial. Para petani milenial bukan hanya dibekali pengetahuan tentang berwirausaha, tetapi juga diajak menguasai pasar.

Hal ini dilakukan Kementan, melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, yang kembali menggelar Pelatihan Kewirausahaan bagi petani muda Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA). 

Untuk mendukung pengembangan pertanian, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah mengukuhkan 2.000 Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan.

"Tongkat estafet pertanian harus segera diberikan kepada generasi muda karena di tangan mereka sektor pertanian akan maju, mandiri, dan modern,” katanya. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi menyatakan hal serupa."Target hingga 2024, kita mencetak 2,5 juta petani milenial. Di tangan mereka lah masa depan pertanian kita berada,” ujar Dedi dalam keterangan yang diterima, Jumat (8/10).

Sementara BBPP Lembang kembali menggelar Pelatihan Kewirausahaan bagi Petani Muda Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA). Pelatihan gelombang ketiga ini melatih 92 orang yang terdiri dari tiga 3 angkatan  DPM DPA dari Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Maluku. 

Pelatihan yang dilaksanakan dengan model blended learning memadukan sesi online dan offline ini, dilaksanakan sesi offline di BBPP Lembang selama tiga hari, pada  5-7 Oktober 2021.

Pada Rabu (6/10), Widyaiswara BBPP Lembang, Elvina Herdiani, Yeyep Dintan, dan N Ida Farida, di 3 kelas berbeda, menjelaskan materi strategi pemasaran. 

“Dalam pemasaran produk pertanian, yang penting adalah prinsip 4P yaitu Price, Promotion, Product, dan Place,” jelas Elvina. 

Ia memaparkan juga tentang strategi pengembangan produk di antaranya branding yang dengan maksud memberi nama pada suatu produk yang dapat membedakannya dengan produk lain, dan labelling yang memberi informasi verbal tentang produk atau penjualnya.

Di hadapan peserta pelatihan yang merupakan petani muda DPM DPA yang beberapa waktu lalu telah dikukuhkan, dijelaskan pula tentang metode penetapan harga yaitu penetapan harga berdasarkan biaya, penetapan harga bersaing, penetapan harga penetrasi, perjenjangan pasar, dan daya serap pasar.

Untuk memahami langsung proses pemasaran produk pertanian yang dijalankan di BBPP Lembang, peserta diajak berkunjung ke Inkubator Usahatani (IUT) dan Packing House (PH). Peserta diminta oleh widyaiswara untuk menggali tentang komponen 4P dalam pemasaran.

Diketahui, IUT dan PH memiliki sistem pemasaran yang berbeda. IUT menerapkan sistem pemasaran jual putus, pembayaran dilakukan langsung saat produk tersedia. 

Sedangkan sistem pemasaran di PH melalui koperasi petani Bavas, yang memasarkan produk petani binaan yang melakukan kontrak dengan Bavas, ada perjanjian kerjasama yang ditandatangani kedua belah pihak.

Dari hasil kunjungan di IUT dan PH, diperoleh informasi kelebihan dan kelemahan masing-masing sistem pemasaran dikaitkan dengan komponen 4P. Selanjutnya Widyaiswara mengajak peserta untuk menetapkan sistem pemasaran yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

Hardi, peserta dari dari Halmahera Maluku Utara menyampaikan kesannya.

“Kunjungan ke IUT dan PH membuka wawasan kami tentang sistem pemasaran yang tepat untuk wilayah kami,” ungkapnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT