30 September 2021, 22:45 WIB

Aktivitas Pabrik Tiongkok Susut Pertama Kali sejak Februari 2020


Mediaindonesia.com | Ekonomi

AFP/STR.
 AFP/STR.
Pekerja merakit kendaraan di pabrik, Qingzhou, Provinsi Shandong, timur Tiongkok, Selasa (28/9).

AKTIVITAS pabrik Tiongkok mengalami kontraksi pada September untuk pertama kali sejak puncak wabah virus korona awal pada Februari 2020. Ini karena Negeri Tirai Bambu itu menghadapi gelombang pemadaman listrik dan kekhawatiran untuk sektor realestat.

Purchasing Managers' Index (PMI)--ukuran utama aktivitas manufaktur di ekonomi terbesar kedua di dunia--turun menjadi 49,6 dari 50,1 pada Agustus, kata Biro Statistik Nasional. Setiap angka di bawah 50 poin menunjukkan kontraksi dan di atasnya menunjukkan pertumbuhan.

Jadi itu pertama kali PMI Tiongkok berkontraksi sejak covid-19 pertama kali menyebar ke seluruh negeri yang memaksa pemerintah memberlakukan penguncian sehingga pabrik tutup dan memukul ekonomi nomor dua dunia itu. Tapi sekarang pihak berwenang sedang berjuang mengatasi krisis energi yang disebabkan oleh pasokan batu bara yang ketat dan harga yang melambung tinggi. Ini menyebabkan penghentian operasi pabrik dan pemadaman listrik di setidaknya 17 provinsi dalam beberapa bulan terakhir.

Krisis listrik yang berkembang, diperburuk oleh pembatasan pemerintah lokal pada pabrik untuk mengurangi penggunaan energi, telah menyebabkan beberapa bank besar menurunkan perkiraan pertumbuhan tahunan mereka untuk Tiongkok. Ada juga kekhawatiran tentang dampak pada rantai pasokan untuk perusahaan global seperti Apple dan Tesla.

Ahli statistik senior NBS Zhao Qinghe mengatakan PMI turun di bawah ambang batas karena kemakmuran industri padat energi yang relatif rendah. Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics memperingatkan industri tampaknya akan mengalami pelemahan lebih lanjut mengingat konstruksi properti berada pada tahap awal perlambatan struktural, penjatahan listrik untuk beberapa waktu, dan ekspor kemungkinan turun kembali karena pola konsumsi global menjadi normal. Angka tersebut sedikit di bawah perkiraan analis Bloomberg yang memperkirakan rebound kecil setelah berhasil menahan wabah virus korona baru-baru ini. 

Ekonomi Tiongkok sebagian besar telah bangkit kembali dari pukulan awal pandemi. Akibatnya, PMI nonmanufaktur Tiongkok yang mengukur aktivitas dalam konstruksi dan jasa menyusut pada Agustus untuk pertama kali sejak pandemi dimulai, tetapi tumbuh kembali pada September.

Kekhawatiran gagal bayar raksasa realestat Tiongkok, Evergrande, yang terjebak dalam utang US$300 miliar juga memukul kepercayaan konsumen. Pemerintah pun mencoba menghentikan risiko keuangan agar tidak meluas ke sektor properti lain.

Baca juga: Ekonomi Inggris Kuartal Kedua Tumbuh Lebih dari yang Diperkirakan

Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, mengatakan PMI yang lemah akan menjadi alarm bagi pemerintah. "Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV kemungkinan melambat lebih lanjut tanpa perubahan kebijakan pemerintah dan laju perlambatan mungkin meningkat," katanya. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT