26 September 2021, 12:35 WIB

IHSG Meningkat 0,19% selama Sepekan Lalu


Fetry Wuryasti | Ekonomi

MI/Agung W.
 MI/Agung W.
Ilustrasi.

PERDAGANGAN saham di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 20-24 September 2021 kembali ditutup pada zona positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (24/9) berada di zona hijau dan secara keseluruhan selama sepekan meningkat sebesar 0,19% atau berada di level 6.144,81 dari posisi 6.133,25 pada penutupan pekan sebelumnya.

"Senada dengan IHSG, nilai kapitalisasi pasar bursa turut mengalami peningkatan 0,69% menjadi Rp7.538,71 triliun dari Rp7.487,29 triliun pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi harian bursa juga meningkat sebesar 1,4% menjadi 1.376.543 transaksi dari 1.357.562 transaksi pada pekan sebelumnya," kata Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono, Minggu (26/9).

Selanjutnya peningkatan sebesar 1,33% terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) menjadi Rp12,752 triliun dari Rp12,584 triliun pada pekan lalu. Perubahan hanya terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa terkoreksi sebesar 6,09% menjadi 21,186 miliar saham dari 22,560 miliar saham pada pekan yang lalu. Investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp1,592 triliun dan sepanjang 2021 investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp27,579 triliun.

Pada Rabu (22/9) PT Duta Anggada Realty Tbk menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Tahap II Tahun 2021 dengan nominal sebesar Rp92 miliar, tingkat bunga 11,5%, dan jangka waktu 370 hari sejak tanggal emisi. Jadi total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun ini sebanyak 74 dari 48 perusahaan tercatat senilai Rp69,53 triliun. Total emisi obligasi serta sukuk yang tercatat di BEI sampai dengan saat ini berjumlah 487 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp427,74 triliun dan US$47,5 juta diterbitkan oleh 127 perusahaan tercatat.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 156 seri dengan nilai nominal Rp4.325,01 triliun dan US$400,00 juta. Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 10 emisi senilai Rp6,17 triliun.

Terpisah, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menekankan kerja sama transaksi perdagangan tanpa menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) atau local currency settlement (LCS) antara Indonesia dengan Tiongkok yang mulai dilaksanakan awal September memiliki dampak positif yang langsung dirasakan pasar uang Indonesia. "(Kerja sama) ini mengurangi ketergantungan kepada dolar AS. Terbukti dolar AS langsung mengalami pelemahan. Ini artinya dampak signifikan," katanya dalam Webinar Menghitung Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2021.

Langkah Bank Indonesia (BI) tersebut akan berpengaruh bagi stabilitas nilai tukar rupiah, karena secara signifikan, mengurangi kebutuhan banyak pihak terhadap dolar AS. Apalagi, menurut Ibrahim, kebijakan ini tak hanya dilakukan dengan Tiongkok tetapi juga dengan beberapa negara lain "Dengan 30% saja (transaksi) mata uang nilai lokal tentu sudah sangat menarik. Kebutuhan dolar AS berkurang. Secara jangka panjang ini akan membantu menjaga stabilitas kurs rupiah ke depan," kata Ibrahim.

Baca juga: Padi Hibrida, Alternatif Peningkatan Produktivitas Beras Nasional

Menurut catatan BI, hingga 20 September 2021, nilai tukar rupiah sudah menguat sebesar 0,94%. Salah satu penyebabnya, ungkap BI, karena terjaganya pasokan valas domestik dan langkah-langkah stabilisasi BI. (OL-14)

BERITA TERKAIT