17 September 2021, 03:47 WIB

Pandemi Covid-19, Saat Tepat Milenial Beli Rumah


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

Dok. Sedayu Indah Selaras
 Dok. Sedayu Indah Selaras
Maket pembangunan Arco Green Park

MEMBELI rumah di masa pandemi covid-19, tentu bukan hal yang mustahil dilakukan sebagian orang. Lantaran tempat tinggal bukan sekadar investasi yang nilainya terus meningkat, tapi juga memiliki rumah tentu menjadi impian setiap orang. 

Pastinya, harapan memiliki rumah sendiri, tak hanya didominasi oleh generasi era ’70-an yang masuk kategori keluarga mapan dengan penghasilan besar, tapi para generasi milenial (80-an atau 2000-an) seperti saat ini pun dapat memiliki atau membeli rumah dengan harga bersahabat.

Malah, beli rumah di saat seperti sekarang ini relatif lebih mudah, harga pun terjangkau, desain keren ala impian anak zaman now (baca: milenial), juga memiliki letak yang strategis

Alhasil, membeli rumah di masa pandemi ini, bisa dibilang memang momen yang tepat saat ini. Terlebih jika hal itu sudah menjadi agenda terencana sejak lama. Tak perlu khawatir dengan harga, karena di bursa properti, banyak pengembang rumah kelas sedang namun terpercaya.

“Soal harga, Anda pun tak perlu resah, karena beragam ukuran tersedia dari Tipe 37, 42, 48 hingga Tipe 55 pun tersedia, dengan tawaran banderol mulai dari Rp 300 jutaan sampai Rp 700 jutaan,” sebut Abdullah Afief, Direktur dari PT Sedaya Indah Selaras (SIS), salah satu pengembang rumah yang masuk kategori kelas sedang. 

Begitu juga soal desain, pastinya tidak kalah menarik dibanding pengembang-pengembang rumah ‘kelas kakap’ atau besar, 

“Karena pengembang kelas sedang pun punya taste bagus yang sarat dengan tampilan modern ala kekinian,” lanjut Abdullah Afief.

Contohnya, seperti PT Sedaya Indah Selaras (SIS) yang sedang gencar-gencarnya dan konsentrasi mengembangkan rumah-rumah bergaya milenial yang dibidik untuk pasar anak muda atau milenial di seputaran Jabodetabek saat ini. 

Pascasukses mengembangkan 6 cluster yang tersebar di Selatan Jakarta, (Puri Laras 1, Puri Laras 2 dan Grand Puri Laras di Ciputat, lalu Serpong Green Park, Serpong Green Park 2 dan Pamulang Green Residence), seperti pengembang lain, PT SIS pun terus melakukan inovasi.

Salah satu yang saat ini jadi incaran milenial adalah Arco Green Park, klaster rilisan terbaru PT SIS dinCitayam, Kabupaten Bogor, yang merupakan klaster ke-7. Klaster ini difokuskan untuk konsumen milenial atau keluarga muda di Jabodetabek yang ingin memiliki rumah terjangkau, baik dari segi budget, juga letak lokasinya, serta desain terkini yang coba dihadirkan. 

“Filosofi kami memang tetap sama, dari sejak awal berbisnis di properti dan bangun perumahan, konsepnya selalu berusaha menawarkan kemudahan memiliki produk hunian lewat harga yang terjangkau, desain modern, kontemporer atau minimalis tapi modis, lokasinya juga strategis,” urai Afief lagi. 

Baca juga : Haldinfoods Bantu UMKM F&B Akses Bahan Baku Berkualitas

Afief menyebut harga dimulai dari Rp300 jutaan sampai Rp700 jutaan paling mahal, tentu dengan tanah luas dan bangunan berdesain kontemporer. Arco Green Park juga bekerja sama dengan banyak bank nasional menyediakan fasilitas kredit atau KPR dari dengan suku bunga rendah dan masa cicilan atau tenor maksimal 20-25 tahun ditentukan sesuai umur konsumen saat melakukan transaksi pembelian secara KPR. 

Soal DP KPR pun, calon konsumen diberi kemudahan dan tidak terlalu besar, hanya 5 persen dari harga kredit. Sementara bagi yang ingin booking, PT SIS hanya menetapkan sebesar Rp2,5 juta, di luar price list.

"Intinya, sekarang buat generasi milenial yang pengen beli rumah gampang banget. Meski gaji hanya Rp7 juta. Toh, cicilan per bulan hanya Rp3 jutaan,” Tambah Ary Nugraha, General Manager, PT SIS.

Meski begitu, Ary berpesan bagi konsumen yang ingin membeli rumah di masa pandemi covid-19 juga harus selektif dan hati-hati. Artinya, jangan sampai tergiur DP murah, cicilan ringan dan fasilitas lain saat penawaran awal, 

Ia pun membagikan tips bagi milenial yang ingin membeli rumah dengan aman. Pertama, cek legalitas perusahaan, sebagai contoh PT SIS selalu menunjukkan surat-surat penting pada calon konsumen yang ditandai dengan AKTA perusahaan, sertifikat tanah yang akan dibangun (SHM) sesuai lokasi dan peruntukannya. 

Kedua, cek juga izin-izin dalam proyek pembangunan klaster atau perumahan tersebut, misal izin membangun dari pemerintah wilayah setempat, izin lokasi dan lainnya.

"Hal ini tentu agar jelas, proyeknya terdaftar atau tidak,” ujar Ary Nugraha. 

Ketiga, pastikan keseriusan si pengembang dan ini bisa dibuktikan lewat fisik atau lokasi dari proyek perumahan yang akan dibangun, ada atau tidak. Jangan sampai hanya berupa lahan kosong dan bemodal tenda sanavil saja untuk memprospek calon konsumen.     

Keempat, minta sales marketingnya untuk menunjukkan lokasi atau batas-batas kavling rumah yang Anda incar, sesuaikan dengan brosur yang mereka tawarkan.sudahkah ada proyek pengerjaan infrastruktur pendukungnya, misal gapura atau plang nama proyek perumahan atau klasternya, lalu jalan, saluran air, tembok atau batas kavling, mungkin bisa juga melihat unit rumah contoh yang sudah dibangun. 

Kelima, jika harus membayar biaya booking, mintakan kuitansi tanda terima secara sah, hindari bayar cash, tapi mintakan nomor rekening perusahaan sebagai bukti bahwa proyek memang dibangun oleh PT atau perusahaan yang legal. 

Keenam, jika sudah yakin akan beli, lalu kasih DP, mintakan surat perjanjian, berikut tertera keterangan hak dan tanggung jawab pembeli atau penjual, timeline pembangunan dan waktu penyerahan unitnya. Boleh juga diberlakukan pinalti jika terjadi keterlambatan atau mleset dari deadline yang dijanjikan. 

Ketujuh, zaat proses pembangunan, rajin-rajinlah melakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan progres pengerjaan proyek, sekaligus mengakurasi bahan baku yang digunakan memang sesuai dengan spesifikasi yang dijanjikan saat di awal akan akad. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT