19 August 2021, 20:20 WIB

Sektor Hulu Migas Butuh Dukungan Pendanaan Perbankan


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Dok.Ist
 Dok.Ist
Tangkapan layar diskusi Peran Perbankan Nasional di Industri Hulu Migas

DUKUNGAN perbankan dalam penyediaan pendanaan bagi proyek-proyek hulu migas masih dibutuhkan pelaku usaha hulu migas. 

Direktur Keuangan dan Administrasi PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), Desiantien mengatakan pihaknya telah melakukan penjajakan pada industri perbankan nasional baik itu swasta ataupun BUMN.

Dari sejumlah penawaran yang dilakukan untuk kebutuhan investasi proyek pengeboran, saat ini sudah ada lima kandidat bank lokal yang akan terlibat dalam pendanaan. Dari lima bank itu tiga diantaranya merupakan bank BUMN anggota Bank Himbara.

"Dari lima bank besar yang masuk, tiga diantaranya adalah bank Himbara. Mereka bisa memberikan penawaran yang lebih kompetitif dibanding bank – bank lain,” kata  Desi dalam diskusi virtual,kemarin.

Kepala SKK Migas Dwi Sujipto  mengatakan investasi adalah kunci untuk dapat menggerakkan potensi hulu migas. Pandemi Covid-19 telah memangkas investasi hulu migas di 2020 secara global rata-rata sebesar 30%. Dalam hal ini investasi hulu migas di Indonesia relatif lebih baik karena hanya menurun sekitar 22%.

Untuk itu, dibutuhkan akan daya saing lokal yang lebih kompetitif, termasuk di dalamnya adalah peran industri perbankan nasional dalam mendukung pembiayaan investasi hulu migas di Indonesia.

Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan menilai saat ini ada beberapa proyek penting hulu migas yang bisa menjadi peluang industri perbankan masuk dan terlibat dalam pembiayaan. Pertama di Region I (Sumatra dan Kepulauan Natuna) ada 63 working area. Kemudian di Region II (Jawa, Madura, Kalimantan) ada 46 working area yang bisa dimasuki industri perbankan nasional. Kemudian di Region III (Indonesia Timur) terdapat 22 working area.

Direktur Kelembagaan dan BUMN Bank BRI, Agus Noorsanto mengatakan, sinergi antara industri hulu migas dengan perbankan nasional sudah dilakukan sejak tahun 2008.

“Sejak 2008, sejak BP Migas berdiri, sinergi perbankan dengan industri hulu migas sudah terlihat dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan untuk para KKKS melakukan kerja sama dengan perbankan nasional,” paparnya.

Menurut Agus, saat ini kegiatan hulu migas yang membutuhkan investasi cukup besar. Beberapa prospek yang bisa digarap perbankan nasional antara lain terkait Pencadangan Dana ASR (Abandonment and Site Restoration), Trustee and Paying Agent, Bank Garansi, Alat Pembayaran (Letter of Credit), Rekening Pembayaran dan Penerimaan untuk Transaksi Penyediaan Barang dan Jasa.

“Selain itu juga Rekening Penerimaan untuk Transaksi Jual Beli Minyak dan Gas Bumi, Rekening Khusus DHE SDA, Pembiayaan Proyek Industri Migas, hingga Pembiayaan Industri Pendukung Hulu Migas,” tandasnya. (RO/E-1) 

BERITA TERKAIT