01 July 2021, 16:09 WIB

G Sulistiyanto, Nakhoda Sinar Mas Berinovasi Hadapi Pandemi


Mediaindoensia.com | Ekonomi

Dok MI
 Dok MI
Gandi Sulistiyanto

GANDI Sulistiyanto Soeherman menjadi salah satu calon duta besar yang diusung Presiden Joko Widodo kepada DPR. Ia dan 32 calon dubes lainnya akan menjalani uji kepatutan dan kelayakan oleh Komisi I  DPR pada pertengahan Juli.

Sulistiyanto merupakan Managing Director Sinar Mas diusulkan Presiden Jokowi menjadi Duta Besar untuk Korea Selatan

Jika menengok perjalanan karir Sulistiyanto, kendati tidak berlatar belakang konglemerat, keluarga Eka Tjipta Widjaja memercayakannya menduduki peran penting di Sinar Mas. Bukan saja sukses, sepak terjangnya dalam mengambil keputusan turut menyelamatkan bisnis yang dinakhodainya.

Sulistiyanto berasal dari keluarga petani sebagai sulung dari 6 bersaudara yang lahir 13 Februari 1960 di Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam asuhan kakek dan neneknya, Sulis menjalani masa SMA dan kuliah sembari bekerja dan berwirausaha. Karir profesionalnya dimulai ketika lulus dari Universitas Diponegoro pada 1982.

Satu dekade awal karirnya dihabiskan di perusahaan otomotif Astra International. Pada 1992, ia bergabung ke grup Sinar Mas, PT Asuransi Jiwa Eka Life (kini dikenal sebagai Sinar Mas MSIG).

Ia sempat mengecap pendidikan dengan mengikuti Top Management Program di Asia Institute of Managemet, Manila, Filipina pada 1999 dan pada 2011 menimba ilmu di Harvard Business School mengambil jurusan Advanced Management Program (AMP).

Suami dari Susi Ardhani ini mengatakan, kemampuannya berdiplomasi, membangun hubungan serta kepercayaan, tidak hanya berlangsung di ranah bisnis, namun juga merambah sisi sosial dan budaya.  

Pada awal pandemi Covid-19 tahun lalu ketika banyak sektor industri tengah terdampak, namun mesti merespons cepat menggalang donasi. Hasilnya, sejumlah perusahaan yang berada di bawah naungan KADIN Indonesia, bersama Yayasan Buddha Tzu Chi melalui gerakan Pengusaha Peduli NKRI mampu mengumpulkan dana sebesar Rp600 miliar.

"Untuk pengadaan pengadaan alat pelindung diri, masker, peralatan uji cepat, ventilator, serta bantuan bahan pangan. Mulanya diperuntukkan bagi para tenaga serta pusat layanan kesehatan, belakangan berkembang menjangkau warga masyarakat terdampak hingga hari ini," tandas Sulistiyanto dalam keterangan yang diterima Media Indonesia, Kamis (1/7).

Jauh dari politik

Sulis memilih menjaga jarak dari agenda politik, namun dekat dengan semua golongan Sikap ini membuat perusahan tempatnya bergabung mampu membangun relasi baik dengan tokoh penting nasional.

Misalnya, membangun gerakan bazar rakyat guna menyalurkan minyak goreng murah bagi masyarakat sejak 2005. Secara terpisah, Presiden  Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Jokowi pernah datang menghadirinya.

Terlahir dari keturunan Tionghoa, Sulis banyak melakoni berbagai kegiatan sosial dan budaya serta lintas agama. Sejak 2003, ia tergabung Indonesian Conference on Religion and Peace sampai saat ini.

Pengalamannya itu yang membuatnya melihat potensi besar Sinar Mas dalam penyebaran sikap toleran, sehingga membidani kehadiran Yayasan Muslim Sinar Mas pada 2019. Yayasan ini merupakan wadah praktik keislaman yang terbuka, setara, dan penuh kasih di lingkungan perusahaan.

Rekam jejak ini pula yang membuat Presiden Megawati pada Maret 2003 di Istana Negara Jakarta, berkenan menerima dirinya beserta sejumlah legenda bulu tangkis kala menyampaikan permintaan penghapusan SBKRI bagi warga keturunan Tionghoa.

Minatnya dalam membangun harmoni antar etnis serta keimanan, mengantarkan dirinya dan Sinar Mas yang diwakilinya dekat dengan kalangan moderat lintas iman, termasuk PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama.

Selaku Ketua Umum Eka Tjipta Foundation kala itu, ia turut mendukung penyusunan buku Warnasari Sistem Budaya Kadipaten Pakualaman Yogyakarta yang diluncurkan Januari 2012 di Bangsal Sewatama, DI Yogyakarta. Buku ini dapat menjadi dokumentasi sejarah penting bagi generasi mendatang.

“Kalangan usaha baiknya memang memiliki kemampuan bergaul dengan banyak pihak, berdiplomasi, menjangkau lintas profesi, kalangan, bahkan keimanan, guna mewujudkan hal baik, agar dapat dirasakan bersama. Diperoleh dari belajar tanpa henti, diasah dengan pengalaman,” pungkas mantan pengurus PB PBSI periode 2004-2010 itu. (OL-8)

BERITA TERKAIT