22 June 2021, 11:20 WIB

Sapu Purbalingga Makin Kondang Nilai Ekspor Tak Terdampak Pandemi


Lilik Darmawan | Ekonomi

MI/Lilik Darmawan
 MI/Lilik Darmawan
Perajin sapu Purbalingga, Jawa Tengah tengah memenuhi pesanan untuk diekspor ke Korsel dan Pakistan.

RUANGNNYA cukup luas, panjangnya mencapai kisaran 30 meter. Puluhan laki-laki tampak sibuk. Jarak antarmereka sekitar 1-1,5 meter. Para pekerja itu juga mengenakan masker. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang merangkai rumput gelagah. Ada juga yang menyatukan rumput gelagah dengan batang kayu. Pekerja lainnya melaksanakan pengemasan. Begitulah sekilas suasana pembuatan sapu di salah satu tempat usaha CV Rayung Pelangi di Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng).

Produksinya memang hanya sapu, tetapi jangan salah, produk tersebut dikirim ke Korea Selatan. Ada juga sapu yang diekspor ke Pakistan. Yang mengejutkan, usaha ini tak pernah terdampak pandemi covid-19. Sebaliknya, pada masa pandemi, justru mengalami kenaikan omsetnya.

Salah seorang pekerja usaha sapu CV Rayung Pelangi, Sartono mengungkapkan bahwa pada masa pandemi malah mencari tambahan karyawan, karena permintaan mengalami peningkatan. "Saya sebagai karyawan juga tidak merasakan dampak pandemi, karena gajian juga lancar dan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK)," ujarnya kepada Media Indonesia, Senin (21/6).

Pemilik usaha CV Rayung Pelangi, Bambang Triyono, mengatakan di awal 2020, usaha yang dijalani hanya melibatkan 20 orang pekerja. Namun, justru ketika pandemi terjadi, pihaknya mencari karyawan baru. Kebetulan, pada masa pandemi ada pekerja yang dirumahkan atau proyek bangunan mandek, sehingga bisa direkrut.

"Saya tidak pilih-pilih karyawan, bahkan penyandang disabilitas saya tampung juga. Yang penting, mereka mau belajar, mengikuti training. Setelah bisa, langsung kerja. Pendapatannya tidak kalah dengan bekerja di proyek bangunan atau pabrik. Pada masa pandemi, karyawan terus bertambah dan sekarang ada 200-an karyawan," jelas Bambang.

Ia mengatakan pada awal pandemi terjadi di Indonesia, pihaknya justru
mulai melakukan ekspor perdana ke Korea Selatan, tepatnya pada Maret 2020. Awalnya satu kontainer atau berjumlah 30 ribu buah. Jadi pada Maret sampai Agustus, ada satu kontainer, kemudian mengalami peningkatan lagi sejak September tahun lalu dengan jumlah dua kontainer. Sedangkan ekspor lainnya sebanyak satu kontainer ke Pakistan.

Bambang semakin sumringah, ketika pada 4 Desember 2020 lalu, sapu gelagah miliknya menjadi salah satu produk unggulan yang dilepas ekspornya oleh Presiden Joko Widodo secara daring. "Di Jateng ada 14 perusahaan, termasuk CV Rayung Pelangi. Kami mendapat kontrak hingga Rp5 miliar pada tahun 2020 lalu," jelasnya.

Dia berterima kasih kepada pemerintah, karena telah melakukan pendampingan ekspor melalui Export Coaching Program (ECP). Program dari Kementerian Perdagangan itu membantunya dalam melakukan ekspor dan pelaku usaha semakin bersemangat dalam mengembangkan produknya.

Kesuksesan Bambang berlanjut di tahun 2021. Korea Selatan masih tetap menjadi tujuan ekspor. Selain itu, ia bersama dengan mitra-mitranya juga mengekspor sapu jenis lain ke Pakistan. "Dari Januari hingga Juni 2021, saya sudah mengekspor 155 ribu buah sapu gelagah atau 6 kontainer untuk Korea Selatan. Tahun ini, nilai kontraknya mencapai Rp7 miliar. Malah saat sekarang lagi berhitung, apakah pabrik saya mampu memenuhi semuanya. Tetapi saya akan berusaha," tekadnya.

Selain itu, lanjut Bambang, pihaknya juga telah dikontak pembeli dari Pakistan untuk memenuhi kebutuhan sapu di negara setempat. "Nilai kontraknya lumayan, mencapai Rp1,5 miliar atau setara dengan 8 kontainer. Untuk sapu yang diekspor ke Pakistan berbeda dengan produk ekspor ke Korea Selatan. Penggarapan sapu ekspor Pakistan dibuat oleh para mitra. Ada 4 mitra yang mengerjakan, baik dari Purbalingga maupun Pemalang," paparnya.

Proteksi Pemerintah

Pemkab Purbalingga tidak mengacuhkan pelaku usaha di kabupaten setempat. Apalagi CV Rayung Pelangi yang nyata-nyata mampu eksis di kala pandemi dan justru menyerap tenaga kerja. Sehingga pemkab juga terus berusaha untuk membantu para pelaku usaha sapu. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan kebijakan berupa surat edaran (SE) Pelarangan Ekspor Bunga Gelagah Arjuna/Bahan Baku Sapu Gelagah dari Kabupaten Purbalingga.

Dalam SE itu disebutkan bahwa kalau ekspor bunga gelagah masih diperbolehkan, maka akan mengakibatkan kekurangan ketersediaan dan menyebabkan kenaikan harga gelagah. Ini akan merugikan bagi para pelaku industri kecil sapu gelagah.

"Karena itulah, maka melarang ekspor bunga gelagah yang menjadi bahan baku sapu gelagah dari Purbalingga ke luar negeri oleh para pengusaha di Purbalingga maupun luar kabupaten," tegas SE tersebut.

Selain itu, melarang penjualan bunga gelagah kepada pengepul yang diindikasikan melakukan ekspor bunga gelagah ke luar negeri. "Surat
edaran yang ditandatangani oleh Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi dan dikeluarkan pada Maret 2021 tersebut menjadi salah satu bukti keberpihakan pemkab kepada pelaku usaha. Sehingga bunga gelagah dilarang diekspor. Yang diperbolehkan adalah sudah menjadi sapu gelagah," kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Banyumas, Agung Widiarto.

Bambang mengungkapkan dengan adanya SE tersebut, maka para pelaku usaha dan perajin sapu lebih lega, karena ada pelarangan ekspor bahan baku sapu. "Jadi ada jaminan bahan baku untuk pembuatan sapu di Purbalingga. Saya dan teman-teman sangat senang karena telah ada aturan tersebut. Memang kami mengusulkan dan ternyata ditanggapi dengan serius dan diterima oleh pemkab. Sehingga kemudian muncul aturan itu," kata Bambang.

Bambang meminta pemerintah pusat juga mengeluarkan kebijakan serupa, sehingga akan melindungi pelalu usaha. "Pemerintah daerah telah mengeluarkan aturan itu. Sayangnya, pemerintah pusat belum. Padahal Presiden Joko Widodo mengultimatum untuk tidak mengekspor bahan mentah," katanya.

Sampai sekarang, lanjut Bambang, dia bersama teman-temannya perajin sapu di seluruh Indonesia sedang memperjuangkan itu. Yakni sebuah kebijakan yang memproteksi para pelaku usaha. "Sebab kalau tidak ada kebijakan pelarangan, maka bakal mematikan perajin sapu. Ekspor bahan baku akan memicu kelangkaan bahan. Jika tidak ada bahan bakunya, maka perajin juga tidak dapat berbuat apa-apa. Itulah pentingnya kebijakan pelarangan ekspor tersebut," tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: Jumlah RS Rujukan Covid-19 di Jakarta Bertambah Jadi 140 RS

BERITA TERKAIT