18 May 2021, 17:05 WIB

Nilai Tukar Dolar AS Melemah, Rupiah Menguat Tipis


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara
 Antara
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran.

NILAI tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) melemah terdahap mata uang lainnya pada perdagangan Selasa (18/5). Hal ini disebabkan investor yakin bahwa Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Serta, adanya kekhawatiran atas laju pemulihan global yang merayap kembali menyusul gejolak kasus covid-19 di beberapa negara Asia.

"Pandemi ini memusnahkan "seluruh keluarga" di wilayah India. Lebih banyak orang mengatakan skala krisis jauh lebih besar daripada yang diungkapkan angka resmi," ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, Selasa (18/5).

Baca juga: Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal Kedua Capai 7%

"Forum Ekonomi Dunia (WEF) membatalkan pertemuan tahunan yang rencananya diadakan pada Agustus ini di Singapura. Sementara kasus di Thailand sedang melonjak," imbuhnya. 

Investor akan beralih ke risalah dari pertemuan April The Fed pada Rabu waktu setempat. Tujuannya, melihat petunjuk potensial pandangan pejabat tentang pemulihan dan bagaimana mereka mendefinisikan "sementara" terkait kenaikan inflasi.

Wakil Ketua The Fed Richard Clarida menyebut laporan pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan April, menunjukkan ekonomi belum mencapai ambang batas untuk mengurangi pembelian obligasi besar-besaran bank sentral.

Sementara itu, Presiden Fed Bank of Dallas Robert Kaplan mengatakan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan, serta efek dasar akan berkontribusi pada peningkatan inflasi pada tahun ini. Namun, dia memperkirakan tekanan harga mereda pada 2022. 

Baca juga: Airlangga Yakin Ekonomi Kuartal II 2021 Masuk Jalur Positif

Dia juga mendesak The Fed untuk menormalisasi kebijakan, serta mengharapkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS sebesar 6,5% pada tahun ini. Dari sisi domestik, dalam perdagangan Selasa (18/5) ini, rupiah ditutup menguat tipis 10 poin di level Rp14.272 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp14.285 per dolar AS pada Senin (17/5).

Pemerintah Indonesia kembali menyuarakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan tumbuh 7% pada kuartal II 2021. "Namun, impian tersebut masih bertolak belakang dengan realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal i 2021 yang masih terjebak resesi. Tercatat, laju ekonomi masih minus 0,74% dalam tiga bulan pertama tahun ini," papar Ibrahim.

Ada 3 strategi utama pemerintah mendorong pemulihan ekonomi, yaitu mempertahankan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Lalu, percepatan vaksinasi untuk mendorong kepercayaan masyarakat dan pembatasan kegiatan skala mikro untuk mencegah penyebaran covid-19.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT