18 May 2021, 10:05 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Tak Stabil Sejak April


Fetry Wuryasti | Ekonomi

AFP
 AFP
Pengunjung mall di Beijing, Tiongkok, konsumsi Tiongkok menurun menyeret pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu itu goyang.

DI tengah penantian akan data ekonomi Tiongkok yang diperkirakan tadinya mampu memberikan bantalan, ternyata pemulihan yang terjadi di Tiongkok mulai terlihat tidak stabil di bulan April.

Data Industrial Production secara YoY turun dari sebelumnya 14,1% menjadi 9,8%. Retail Sales YoY turun dari sebelumnya 34,2% menjadi 17,7%. Data tersebut turun lebih dalam daripada proyeksi. Satu satunya data yang cukup positif yaitu pengangguran turun lebih dalam dari 5,3% menjadi 5,1%.

Konsumsi yang mulai berkurang di Tiongkok menjadi sebuah saksi bisu bahwa perekonomian masih membutuhkan stimulus tambahan untuk menjaga fase pemulihan.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diproyeksikan akan sedikit melambat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang di tengah adanya potensi gelombang Covid-19 yang terjadi di Tiongkok namun dalam jumlah yang kecil.

Rendahnya konsumsi di Tiongkok mungkin akan membuat para kebijakan berpikir untuk kembali melonggarkan likuiditas dan pengeluaran investasi untuk mencegah adanya potensi perlambatan lebih lanjut ke depannya.

"Tiongkok harus berhati-hati menurut kami sebelum melakukan pengetatan kebijakan. Di tengah adanya ekspektasi dan harapan pemulihan ekonomi Tiongkok, para pembuat kebijakan baik fiskal maupun moneter diharapkan dapat berpikir dua kali untuk menyampaikan adanya keinginan untuk mengurangi stimulus karena dikhawatirkan akan membuat dampak yang tidak baik di masa yang akan datang," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, Selasa (18/5).

Angka pengangguran yang menurun akan menjaga fase pemulihan ekonomi untuk tetap berjalan dengan baik, karena pasar tenaga kerja yang kuat akan membantu menjaga daya beli terkait dengan konsumsi di pasar.

"Namun memang harus kita akui bahwa pemulihan di Tiongkok memang tidak seimbang dan stabil, meski demikian tapi kami melihat bahwa ini merupakan salah satu pemulihan di masa pandemi, yang tidak harus terjadi dengan sempurna," kata Nico.

Sejauh ini dengan dibukanya kembali bisnis, membuat masyarakat akan mulai melakukan pengurangan pengeluaran dari sisi barang menjadi jasa yang dimana hal ini akan menopang sektor jasa di tengah masa pemulihan.

Namun naiknya angka kasus di negara negara Emerging Market masih akan menjadi salah satu yang harus diperhatikan karena dapat mengurangi permintaan dari Tiongkok. Oleh sebab itu, pemulihan Tiongkok masih akan terus berlanjut.

Prosesnya mungkin berbeda beda untuk setiap negara, tapi seperti apapun pemulihannya, yang jelas situasi saat ini memberikan indikasi bahwa pemulihan telah terjadi dan akan terus berlangsung meskipun tidak seimbang dan merata.

Situasi dan kondisi berbeda terlihat di Amerika. Pemulihan ekonomi yang berlangsung dengan sangat cepat, mendorong para perusahaan untuk menimbun lebih banyak pasokan. Apapun jenis industri dan barangnya, para perusahaan tengah berusaha untuk mempertahankan supply di tengah tingginya permintaan akan barang barang oleh konsumer.

Hal ini mendorong industri untuk kembali bergerak lebih cepat setelah sebelumnya tertidur, yang dimana mendorong rantai pasokan bergerak lebih cepat. Namun pemulihan ekonomi yang terlalu cepat, dikhawatirkan akan mendorong inflasi dan memberikan dampak terhadap pasar ekuitas di Amerika.

Permintaan yang tinggi merupakan sebuah bentuk bahwa simpanan uang dalam kurun waktu 1 tahun, siap untuk dibelanjakan untuk mendorong permintaan karena adanya rasa aman di masyarakat akibat vaksinasi yang terus berlangsung.

Hal ini yang membuat pemulihan akan berlangsung lebih cepat, meskipun data ketenagakerjaan juga harus mengimbangi untuk memberikan fundamental ekonomi yang baik ke depannya.

Indikator ekonomi di Amerika yaitu Logistic Manager’s Index terus mengalami peningkatan. Ukuran ini dibuat berdasarkan survei setiap bulan kepada para pemasok untuk melihat biaya inventories, transportation dan warehousing. Logistic Manager’s Index sekarang sudah berada di level tertingginya sejak 2016 silam.

"Atas dasar hal ini, makanya banyak yang berkesimpulan bahwa tingkat suku bunga akan mengalami kenaikkan yang lebih cepat yang akan mengirimkan sinyal kepada para pemangku kepentingan untuk memberikan sebuah jawaban terkait dengan hal tersebut," kata Nico. (OL-13)

Baca Juga: Saham Rolls-Royce di Bursa Efek London Anjlok

BERITA TERKAIT