10 May 2021, 22:32 WIB

Aprindo: Kondisi Ritel Masuk Pre-Recovery


Fetry Wuryasti | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Ilustrasi 

KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey melihat konsumsi dan kinerja industri ritel sejak awal April mulai membaik. Dalam siklus industri ritel saat ini sudah mulai terlihat pre-recovery dibandingkan tahun lalu.

Awal dari recovery sebagai dampak positif dari telah diterapkannya vaksinasi sejak Januari 2021, dan sudah mendekati 13,3 juta orang di Indonesia yang menerima vaksin pertama dan 8,6 juta orang telah menerima vaksin kedua.

"Sehingga masyarakat sudah mulai muncul optimisme, terutama kaum ekonomi menengah ke atas untuk berbelanja. Kemudian masyarakat ekonomi menengah dan bawah terus disubsidi pemerintah, berupa bantuan sosial selama Covid-19 berlangsung," kata Roy Mandey dalam wawancara bersama Metro TV, Senin (10/5).

Hal ini membuat konsumsi kembali bergeliat. Konsumsi rumah tangga di industri ritel sangat tergantung dua hal yaitu mobilitas masyarakat yang telah dilonggarkan, dan peningkatan beli. Ketika pembatasan sudah dilonggarkan, maka kemudian berdampak kepada peningkatan kunjungan orang ke pusat perbelanjaan, dan menggerakan transaksi.

"Dua hal ini bergerak seirama dengan vaksin yang sudah disuntikkan. Kami apresiasi pemerintah yang terus mendukung program penanggulangan Covid-19 sekaligus peningkatan ekonomi," kata Roy.

Saat ini Aprindo melihat dari survei Mandiri Institut bahwa telah ada peningkatan indeks di angka 128 sejak awal April 2021. Artinya selama satu tahun lalu, keinginan atau optimisme belanja masyarakat sangat rendah. Tetapi di April mendekati Lebaran di Mei 2021 indeks melonjak signifikan.

Roy menambahkan, pelarangan mudik berdampak cukup signifikan. Sebelum pandemi kegiatan mudik merupakan fungsi rutin. Belanja untuk mudik biasanya berkontribusi 40%-45% dari target setahun ritel.

Tahun ini dengan larangan mudik dan masyarakat terpusat di kota-kota besar, diharapkan bisa belanja di Ramadan dan Idul fitri bisa berkontribusi sebesar 20-25% dari target tahunan ritel. "Sehingga bisa mencapai titik di atas 50% dari tahun lalu potensi transaksi masyarakat di gerai ritel modern," kata Roy.

Aprindo optimistis target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan 7% di 2021 bisa terjadi, dengan beberapa catatan. Pertama subsidi dan bantuan sosial tetap disalurkan ke golongan menengah dan marjinal. Kedua, kebijakan fiskal dimana PMK nomor 9 tahun 2021 tentang insentif pajak bagi wajib pajak terdampak Covid-19, yang berlaku sampai Juni 2021 diharapkan dapat dilanjutkan sampai akhir tahun untuk menunjang nilai pajak yang ditangguhkan bisa digantikan dengan konsumsi perusahaan.

Ketiga, kebijakan moneter terkait suku bunga. Penurunan suku bunga Bank Indonesia diharapkan segera ditransisikan oleh perbankan untuk segera menurunkan suku bunga.

"Ini korelasi supaya bagaimana masyarakat punya pinjaman  dan sebagainya ketika bunga turun, maka diharapkan selisih bunganya itu bisa mereka pakai untuk konsumsi. Untuk mencapai 7% pertumbuhan, maka tidak ada jalan lain untuk menjaga keutuhan konsumsi masyarakat untuk berbelanja," kata Roy. (OL-15)

BERITA TERKAIT