09 May 2021, 07:15 WIB

Perekonomian Nasional Berhasil Lewati Masa Tersulit


Despian Nurhidayat | Ekonomi

ANTARA/Fikri Yusuf
 ANTARA/Fikri Yusuf
Warga melakukan transaksi pembayaran digital dengan menggunakan QRIS saat peresmian digitalisasi Pasar Banyuasri di Buleleng, Bali.

PEREKONOMIAN Indonesia diklaim telah berhasil melewati masa-masa sulit dengan ditopang berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pemberian beragam stimulus baik dalam hal fiskal maupun juga moneter hingga program vaksinasi covid-19, dengan Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang paling cepat dalam melaksanakan proses vaksinasi di masyarakat.

“Dengan berbagai upaya yang ada, kita kini tidak lagi hanya berkutat pada perbaikan kondisi perekonomian namun telah berlanjut pada langkah pemulihan ekonomi nasional,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dilansir dari keterangan resmi, Minggu (9/5).

Menurut Perry, membaiknya perekonomian Indonesia didasarkan pada catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini telah berada di kisaran 4,1% hingga 5,1%.

Baca juga: Literasi Digtal UMKM Jadi Kendala dalam Transformasi Digital

Capaian tersebut ditopang kinerja ekspor yang membanggakan dan juga diperkuat sejumlah stimulus baik fiskal maupun moneter. Tidak hanya itu, stabilitas perekonomian makro, disebut Perry, juga tetap terjaga dengan inflasi yang berada di level rendah.

“Inflasi kita terjaga di bawah 2%, bahkan mencapai 1,4% untuk posisi saat ini. Di akhir tahun diproyeksikan juga masih akan terjaga di level 3% dengan plus-minus 1%. Lalu perbankan kita juga sangat kuat. Likuiditasnya melimpah, dengan tern suku bunga yang juga terus menurun. Ini semua membuat perekonomian kita saat ini jauh lebih baik disbanding masa-masa awal terjadinya pandemi,” tuturnya.

Perry menambahkan, gelombang digitalisasi sistem pembayaran di masyarakat juga tampil sebagai game changer yang turut memperkuat Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi.

Dengan adanya pandemi yang membuat mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas, gelombang digitalisasi terbukti sukses membuat aktivitas perekonomian sehari-hari di masyarakat jadi tetap bergeliat.

“Dengan pergerakan yang serba terbatas, pembayaran secara digital menjadi semakin luas dan diminati. Transaksi e-commerce kita tahun lalu, misalnya, telah mencapai Rp266 triliun. Insya Allah di tahun ini masih bisa tumbuh sekitar 39,1% menjadi Rp370 triliun,” ujar Perry.

Tidak hanya belanja lewat e-commerce, pemakaian pembayaran elektronik pada tahun lalu juga berhasil menembus angka Rp205 triliun. Pada tahun ini, nilai tersebut diperkirakan masih memiliki ruang untuk tumbuh sekitar 32,2% menjadi Rp271 triliun.

Lalu transaksi digital banking secara fantastis juga berhasil menembus angka Rp27.000 triliun, dan pada tahun ini diproyeksikan masih bakal tumbuh sedikitnya sekitar 21,8% menjadi Rp33.000 triliun.

“Digital banking secara perlahan telah menjadi new normal dalam sistem perbankan dan juga perekonomian nasional secara luas. Ini jelas menjadi game changer yang tak bisa dilepaskan dari kemampuan ekonomi Indonesia untuk terus pulih dari dampak tekanan pandemi,” tegasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT