28 February 2021, 20:52 WIB

Kongres KNI-ID Rumuskan Strategi Pengembangan Food Estate


Eva Pardiana | Ekonomi

MI/Eva Pardiana
 MI/Eva Pardiana
Kongres Komite Nasional Indonesia untuk Irigasi dan Drainase virtual dan offline di Bandar Lampung, Lampung, Minggu (28/2)

KONGRES Komite Nasional Indonesia untuk Irigasi dan Drainase (KNI-ID)/ Indonesian National Committee On Irrigation And Drainage (INACID) yang berlangsung Sabtu-Minggu (27-28/2) di Bandar Lampung berupaya merumuskan strategi pengembangan lumbung pangan (food estate).

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basoeki Hadimuljono mengatakan pengembangan lumbung pangan berkelanjutan harus segera diwujudkan untuk mengantisipasi krisis pangan akibat pandemi Covid-19 sekaligus mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Kementerian PUPR tengah mengembangkan food estate seluas 165.000 hektare di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Di samping itu, telah diprogramkan pengembangan food estate di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

PUPR juga merevitalisasi lahan eks-PLG yang bukan lahan gambut, melainkan alluvial seluas 165.000 hektare di Kalimantan Tengah. Itu semua butuh tata kelola air yang sangat detail dan akurat. PUPR memprioritaskan penanganan drainase sehingga lahan tidak tergenang dan bisa ditanami.

"Sementara di Sumatera Utara dan NTT yang merupakan lahan kering kita fokuskan ke irigasinya menggunakan gun sprinkler," papar Basoeki dalam arahan yang disampaikan secara virtual, Sabtu (27/2) di Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung.

Dalam pengembangan food estate, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi. Secara garis besar, tantangan tersebut meliputi tata kelola air, ekonomi masyarakat, lingkungan, kelembagaan, dan pembiayaan. "Dibutuhkan pemikiran dan kolaborasi dari berbagai sektor untuk mendapat solusi yang tepat dan dapat diaplikasikan di lapangan," ujar Basoeki.

Menteri Basoeki berharap kongres KNI-ID dapat menjaring pemikiran dan merumuskan solusi terbaik untuk tantangan-tantangan yang akan dihadapi pada pengembangan food estate di berbagai wilayah.

Lampung Siap Jadi Penopang Ketahanan Pangan

Pemerintah Provinsi Lampung mendukung pengembangan food estate serta menyatakan kesiapan menjadi penopang Ketahanan Pangan Nasional.

Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim memaparkan di tengah situasi pandemi, Provinsi Lampung berhasil meningkatkan produksi sektor pertanian sekitar 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

Lampung merupakan sentra utama ubi kayu peringkat pertama di Indonesia dengan produksi 4,92 juta ton atau kontribusi nasional mencapai 30 persen. Sentra kopi robusta dengan produksi 110 ribu ton atau sekitar 16 persen dari produksi nasional.

"Selain itu Lampung juga menjadi sentra padi dengan produksi mencapai 2,1 juta ton, jagung dengan produksi mencapai 2,4 juta ton, lumbung ternak sapi dengan jumlah populasi sebesar 819 ribu ekor," papar wakil gubernur yang akrab disapa Nunik itu saat membuka Webinar KNI-ID, Sabtu (27/2).

Untuk mendukung sektor pertanian, Lampung memiliki lahan baku sawah seluas 361.699 hektare dan lahan kering 2,2 juta hektare. Pemprov Lampung juga telah menyampaikan usulan penambahan luas lahan baku sawah seluas 6.575 hektare untuk dapat diverifikasi oleh Kementerian ATR/BPN.

Rektor Universitas Lampung Karomani menambahkan, sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki perhatian khusus di bidang pertanian, Unila memiliki lebih dari 30 paten riset yang dapat digunakan. Pembangunan berbasis riset dibutuhkan untuk mewujudkan lumbung pangan berkelanjutan.

"Saya ingat 1984, Indonesia pernah menorehkan prestasi swasembada pangan dan mendapatkan penghargaan FAO. Kita harus berterimakasih kepada Pak Harto. Hal-hal yang baik dari Orde Baru patut kita apresiasi. Semoga adanya food estate kembali memperkuat ketahanan pangan Indonesia," ujar Karomani.

Sebelumnya juga telah dilaksanakan Webinar KNI-ID 2021 dengan jumlah peserta mencapai 1.750 orang. Webinar mengangkat tema Pengembangan dan Pengelolaan Lumbung Pangan Berkelanjutan untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Meningkatkan Kesejahteraan Petani dalam Lingkungan Strategis yang Dinamis.

Hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya, Ketua KNI-ID Adang Saf Ahmad, Peneliti UNESCO-IHE Prof Bart Schultz, Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan Ditjen PSP Kementan Erwin Noor Wibowo, Akademisi UGM Budi Santoso Wignyosukarto, Budi Satyawan Wardana dari Badan Restorasi Gambut, Direktur Pengembangan Sistem dan Strategi Pembiayaan DJPI Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna. (OL-13)

BERITA TERKAIT