17 November 2020, 05:20 WIB

RCEP Bawa Sentimen Positif ke Bursa Saham dan Rupiah


(Try/Ant/E-1) | Ekonomi

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham di Jakarta, Jumat (6/11/2020). 

Penandatanganan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP) memberikan sentimen positif bagi perdagangan di bursa-bursa Asia, termasuk Indonesia.

Indek harga saham gabungan (IHSG) dibuka menguat tinggi ke level 5.500 atau 0,89% lebih tinggi daripada penutupan perdagangan Jumat (13/11).

Indeks perdagangan Senin (16/11) dibuka menguat pada level 5.500,034 (+0,89%) daripada penutupan sebelumnya di level 5.451,06.

"Hal tersebut menandakan blok dagang terbesar di dunia dapat berdampak positif pada seluruh negara di Asia Pasifik," kata Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper, kemarin.

Surplus neraca perdagangan Oktober yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar US$3,19 miliar juga memberikan optimisme pelaku pasar akan pemulihan ekonomi di tengah pandemi covid-19.

IHSG akhirnya ditutup menguat 33,81 poin atau 0,62%ke posisi 5.494,87.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 6,24 poin atau 0,72% menjadi 873,44.

"Market mengapresiasi kinerja neraca perdagangan per Oktober yang semakin surplus, kata Analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama.

Secara sektoral, seluruh sektor meningkat dengan sektor properti naik paling tinggi yaitu 2,35%, diikuti sektor infrastruktur dan sektor pertambangan industri masing-masing 1,92% dan 1,65%.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta kemarin juga menguat, didorong surplus neraca perdagangan Oktober 2020 dan kesepekatan RCEP. Rupiah ditutup menguat 60 poin atau 0,42% ke posisi 14.110 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya 14.170 per dolar AS.

"Penguatan rupiah hari ini ditopang surplus neraca perdagangan Oktober dan sentimen positif dari pembentukan kerja sama ekonomi 15 negara Asia Pasifik," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra. (Try/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT