29 April 2022, 04:10 WIB

Kemuliaan yang Hakiki


Quraish Shihab | Cahaya Hati

Quraish Shihab/MI.Seno
 Quraish Shihab/MI.Seno
  

KITA sering mendengar kata kemuliaan. Apa kemuliaan itu? Ia biasa diartikan dengan kedudukan tinggi yang mengundang pemiliknya dihormati.

Namun, apa yang menjadikan dia mulia? Apa yang menjadikan dia dihormati? Karena kemuliaan ada dua macam. Ada kemuliaan hakiki dan kemuliaan relatif.

Harta ialah kemuliaan relatif. Sewaktu-waktu bisa hilang. Jabatan demikian juga. Kebangsawanan dan situasi dapat berubah. Kemuliaan hakiki ditandai tiga hal.

Pertama, sangat wujudnya atau jarang samanya. Itu sebabnya batu mulia ialah batu yang jarang seperti itu sehingga dia dinamai batu mulia.

Kedua, sangat penting peranannya sehingga sangat dibutuhkan banyak pihak. Kalau tidak penting peranannya, dia tidak dibutuhkan, dia tidak mulia. Ketiga, tidak mudah dijangkau karena ketinggian kedudukannya.

Yang paling mulia, yang mahamulia ialah Tuhan. Itu karena tidak ada samanya. Peranannya sangat penting karena semua membutuhkannya. Tidak ada yang dapat mewujud, kecuali berkat kehadiran Tuhan mewujudkannya dan tidak bisa dijangkau. Tidak dapat terlihat dalam dunia kehidupan kita.

Demikian juga manusia. Semakin jarang samanya, semakin tinggi peranannya, semakin tidak mudah dijangkau, semakin mulia ia. Bukan karena hartanya.

Kalau Anda ingin mulia, jangan kaitkan mulia Anda kepada yang tidak memilikinya secara langgeng. Kaitkan diri Anda kepada dia yang memiliki ketiga sifat yang saya sebut tadi. Sangat jarang, sangat penting dan tidak mudah dijangkau.

Kaitkan diri Anda kepada Allah. Ketika itulah Anda akan merasa mulia dan Anda memang benar-benar menjadi seorang yang mulia. Sampaikanlah wahai Nabi Muhammad bahwa semua kemuliaan bersumber dari Allah SWT.

BERITA TERKAIT